(by: Ubaidillah el-qoyz*)
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Mahsa. Kemarin, ia resmi lulus dari
Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Hari ini adalah pertama kali dia menyandang
gelar ‘alumni pondok’. Mahsa tak tahu harus bahagia atau malah sedih. Bahagia,
karena kebebasan yang ia impikan dulu menjadi kenyataan, atau sedih, karena ia
dibilang teman-temannya mengakhiri masa enam tahun mondok dengan ‘su’ul
khatimah’. Bagaimana tidak? Kemarin waktu sowan ke Bu Nyai minta do’a dan
boyong, ia ‘ditawari’ tiga Gus dari pondok itu! Dan semuanya ia tolak dengan
alasan masih ingin kuliah diluar.
“Kau menolak menikah dengan keluarga Pondok Lirboyo? Coba ulangi lagi?!”
ibu Mahsa menjewer kuping anaknya itu sampai merah. Tanda bahwa ia sangat
marah.
“Aduh duh duh... Ampun, bu... kan cuma ‘ditawari’, bu...lagipula aku kan
masih muda, bu. Masih ingin berdakwah keliling dunia!”
“Apa? Coba ulangi?!” tangan ibu makin kasar menjewer Mahsa.
“Dunia sudah rusak, nak! Ibu tidak mau kamu ikut rusak! Makanya ibu
memondokkanmu. Lha begitu ditawari suami sholeh, tidak tanggung-tanggung, tiga
calon! Tinggal pilih! Dan kamu malah menolak semuanya?”
Kuping Mahsa merah
bengkak. Kanan dan kiri.
“Iya, bu. Akan kuterima, tapi tidak sekarang. Aku masih ingin kuliah, bu. Dan
bukankah jodoh sudah ditentukan Allah bahkan sebelum aku lahir? Kenapa harus
bingung?”
Ibu Mahsa terdiam. Menatap
anaknya lamat-lamat, lalu menghela nafas berat.
“Ya sudah. Kuliah yang sungguh-sungguh, sana! Biar jadi Bu Nyai yang
pintar!”
“Siap, bu. Aku berangkat dulu ya, assalamualaikum.”
“Eh. Tunggu dulu, nak!”
“Ada apa, bu?” langkah Mahsa terhenti.
“Bawa ini.” Ibu Mahsa menyodorkan dua pisang susu segar. Jujur, sebenarnya
Mahsa benci dan tak suka pisang. Mungkin enam tahun mondok sudah memudarkan ingatan
ibunya tentang itu. Tapi tak apalah, anggap saja simbol perdamaian dengan
ibunya pagi ini.
“Makasih, bu. Aku berangkat.”
“Jangan lupa dimakan pisangnya!”
“Mmm...insyaallah.”
Dalam hati ia menambahi,
“insyaallah tidak akan kumakan, bu”
***
Nama Mahsa langsung
populer di kampusnya. Selain karena cantik, ia juga mudah bergaul
(biasalah...jebolan PonPes kebanyakan memang punya kecerdasan interpersonal
yang tinggi) dan ditambah gaya ngomong ceplas-ceplos binti polosnya yang kerap
mengundang tawa, menjadikan ia cepat dikenal seluruh lapisan kampus.
“Katanya kamu itu lulusan pondok ya, Sa?” tanya John, teman baru Mahsa satu
kelas.
“Ho’oh.”
“Nggak bosan?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak disitu terus aja?”
“Suka-suka akulah! Lagian semua orang punya hak untuk pergi kemana pun dia
mau, kan?”
“Mahsa! Jangan ngobrol sama dia!” tiba-tiba Najma nimbrung ke meja
Mahsa, “Asal kamu tahu ya, dia itu sedang memasukkan doktrin-doktrin sesat ke
kamu. Tentang apa? Agamanya! Dia itu agen gereja yang bertugas menyebar
kristenisasi di kampus ini!”
“Sampai kapan kamu menuduhku begitu?” suara John terdengar putus asa.
“Sampai kamu mengaku! Bahwa kalung-kalung salib, foto-foto Yesus, dan
kaos-kaos bertuliskan ayat Injil yang sering kau bawa ke sini, adalah untuk
mengkristenkan seisi kampus ini! Iya kan? Itu kan misimu?” tuding Najma
berapi-api.
“Najma, kan berkali-kali kubilang, aku membawa itu semua kesini Cuma untuk
promosi. Aku punya toko yang menjual aksesoris untuk umat kristen, sama
sepertimu yang punya toko baju muslimah.”
“Ah, omong kosong! Alasanmu selalu saja itu! Asal kau tahu, minggu lalu aku
coba ke alamat yang sering kau sebut toko itu. Itu ada! Alamat yang kau maksud
Cuma ruko kuno! Masih mau berdalih lagi?”
“Hari minggu memang tutup karena aku ke gereja untuk beribadah, NAJMA!”
John mulai tersulut emosi. Ia menggebrak meja Mahsa. Tidak terima.
“Sudah-sudah...! tidak bisakah kita mengesampingkan agama disini, Najma?”
“Kau membela dia, Sa?” Najma berkata tidak percaya.
“Aku tidak sedang membela siapa pun disini. Aku ingin kita berteman, tanpa
memandang urusan pribadi kita. Apa pun itu.” Ada penegasan di tiga kata
terakhir Mahsa.
Najma terdiam menatap
Mahsa dan john bergantian. Sejurus kemudian ia melengos dan berkata, “Aku tidak
tanggung jawab jika suatu hari nanti kau murtad, Sa!”
Mahsa tersenyum mendengar
itu. Meremehkan alumni Pondok Lirboyo dia, batin Mahsa.
“Jangan percaya. Aku berani sumpah demi apa pun. Aku tidak melakukan
kristenisasi.”
“Iya, John. Aku percaya kok.”
“Najma memang begitu tiap hari. Selalu marah bila bicara denganku. Tapi aku
tahu dia sebenarnya baik, kok.”
Mahsa menghela nafas.
Benar kata ibunya, dunia luar sudah rusak. Andai tidak ia pisah, mungkin tangan
kekar John sudah melakukan lebih dari sekedar menggebrak meja. Beruntung ia
sabar.
***
“Bagaimana kuliahmu, nak?”
“Ya begitulah, bu.” Mahsa menjawab malas, kemudian segera melahap nasi
berlauk sup ayam hangat di depannya. Masakan ibunya memang paling sedunia. Ah, bukan, yang betul terlezat
sedunia dan akhirat!
“Cobalah jalan-jalan, Nak. Banyak yang berubah di daerah ini. Habis sholat
maghrib kamu boleh keluar, asal jangan pulang malam-malam.”
Mahsa tidak menjawab,
hanya mengangguk. Apa salahnya jalan-jalan melihat perubahan daerah ini,
pikirnya. Namun, tiba-tiba ingatannya disentak oleh sesuatu!
“Uhk...!” Mahsa tersedak. Cepat-cepat diraihnya gelas berisi air putih di
depannya, dan langsung meminumnya pelan-pelan.
“Kenapa, nak?”
“Tidak apa-apa. Oh ya, aku selesai makan, bu. Aku ke kamar ya. Nanti kita
jama’ah maghrib kalau ayah sudah pulang dari kantor.” Tanpa menunggu jawaban
ibunya, gadis itu sudah lincah mencuci piringnya, mengambil beberapa buah di kulkas,
dan langsung ke kamar. Ibunya cuma melongo. Anak pertamanya itu memang hobi
sekali bergerak. Overaktif.
“Dasar anak muda.” Ibunya berkata sendiri.
Dalam kamarnya, Mahsa
terlihat duduk fokus memegang bolpoin di atas kertas kosong. Ia tampak berfikir
keras. Hingga, tibalah saat dimana ia dihinggapi inspirasi. Seketika ia
tersenyum. Buru-buru, ditulisnya inspirasi itu dalam dua helai kartu kecil
seukuran KTP.
“Beres!” Mahsa bicara sendiri, lantas senyum-senyum sendiri (lagi). Wah,
untung dia cantik. Jadi mau tersenyumlah, meringislah, menangislah,
merengutlah, mengkerutlah, ya tetap saja cantik. Apalagi kalau marah. Beuh,
bawaannya pengen buat dia tambah marah! Konon, katanya Mahsa itu tambah cantik
justru kalau dia sedang marah! Entah kata siapa...
***
“Ah, masa’? lha wong dia
itu ya, dari luar saja kelihatan horor, apalagi dalamnya! Uh, kayaknya mustahil
deh kalau John sampai minta maaf segala.” Najma berkata sembari menata
baju-baju muslimah di tokonya.
“Beneran, Ma. Ya ampun... apa sih susahnya percaya? Allah saja maha pemaaf,
masa’ kamu nggak?”
“Aku ingin percaya, tapi sulit. Habisnya kami memang sudah bagai musuh
bebuyutan.”
“Dan kamu, yang notabenenya seorang muslim, sama sekali tidak ada keinginan
untuk mengakhiri permusuhan itu? Berdamai?”
“Ada, tapi sedikit.”
“Ingin percaya, tapi sulit. Ingin berdamai, tapi sedikit. Pelit amat sih
kamu, Ma. Jangan setengah-setengah dong.
Kamu sungguh ingin berdamai, tidak?”
“Iya deh...iya. Aku mau.”
“Nah, gitu dong. Oh ya, tadi John
titip ini untukmu.” Mahsa menyerahkan sebuah pisang susu- yang tadi pagi diberi
ibunya- dan secarik kertas kecil seukuran kartu nama.
“Tenang, pisang ini tidak beracun
kok.” Mahsa menyegir bercanda, “Ayo, terimalah.”
Ragu-ragu,
Najma menerima pisang dan secarik kertas itu. Dalam diam ia membaca tulisan
dalam kertas itu, lantas tersenyum manis. Namun, sejurus kemudian kening Najma
berkerut. Mahsa melihat perubahan air muka itu.
“Kenapa, Ma? Ada yang salah?”
“Ah, tidak.” Najma tertawa menepuk
bahu Mahsa. Tawa yang ganjil.
“Sejenak aku merasa konyol. Mungkin
ini pertama kali dalam sejarah ada orang yang memberi pisang sebagai permintaan maaf. Tapi,
sejenak kemudian aku merasa bersalah. Harusnya akulah yang minta maaf duluan.
Bukan malah dia.”
“Baru sadar?”
“Iya.”
“Bagus. Kesadaranmu belum terlambat.
Kau bisa berdamai dengannya besok. Oh ya, omong-omong alamat tokonya dimana?”
Najma mengucapkan sebuah alamat.
“Aku ragu dia benar-benar punya
toko. Kemarin minggu aku coba ke alamat itu. Ternyata Cuma sebuah ruko kuno.”
Mahsa tersenyum. Hari minggu kan
ibadahnya orang Kristen, batinnya.
“Ya sudah. Aku pulang dulu.
Assalamualaikum.”
Najma
menjawab salamnya pelan.
***
“Oh
ya? Dia bilang begitu? Tumben sekali.” John berkata tak percaya.
“Iya, John. Bahkan dia bilang
harusnya dia meminta maaf telah berulang kali menuduhmu melakukan kristenisasi
di kampus. Dia ingin minta maaf, tapi masih malu. Mungkin baru besok dia
bersikap baik padamu.”
“Ya sudahlah. Syukur kalau begitu.”
“Kau memaafkannya, kan?”
“Buat apa menyimpan dendam? Lagipula
aku juga tidak terlalu memikirkannya.” John berkata santai, lantas menciumi
kalung salib yang ia pakai. Mahsa tersenyum melihat itu. Harusnya mereka
akrab karena sama-sama pengusaha, batin Mahsa bersuara.
“Oh ya, ini titipan kecil darinya.”
Sebuah pisang susu dan secarik
kertas itu berpindah tangan. John membaca tulisan tangan dalam kertas kecil
itu:
John
tersenyum membaca itu. Tapi, seperti Najma tadi, tiba-tiba John mengernyitkan
dahi.
“Kenapa John? Kamu terlihat heran.
Ada yang salah?”
John
menatap Mahsa. Terlihat benar ia gugup.
“Ah, tidak ada, kok.” John tertawa.
Ganjil. Ganjal. Aneh.
“Hmm…kamu baik-baik saja, kan? Tidak
sedang sakit?” tanya Mahsa khawatir.
“Enak saja. Jelek-jelek begini aku
masih waras, tauk.” John langsung sewot.
“Nggak, Cuma tanya. Soalnya
kebiasaan orang yang lagi ‘sakit’ tuh suka tertawa sendiri tanpa sebab. Ya
kayak kamu barusan.” Mahsa mengangkat bahu, berkata tanpa dosa.
“Huh…kamu ini. Kalau sudah nggak ada
keperluan, saya persilahkan keluar dari tokoku. Lagipula bukankah jam segini
kamu sembahyang? Sholat isya’?”
“Oh, ya ampun! Aku sampai lupa!”
pekik Mahsa pelan. Ia melirik jam tangannya dan terkejut. Pukul setengah
sembilan?!
“Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Bye!”
“Eh, tunggu dulu, Sa!”
Langkah
gadis itu terhenti. Ia menoleh.
“Apa?”
“Salam ke Najma ya, terimakasih.”
Mahsa tersenyum kecut.
“Iya, kalau tidak lupa.”
Mahsa
pulang dengan hati riang. Pisang susunya habis dengan membawa manfaat. Tapi
masih ada satu hal yang mengusik hatinya.
“Mengapa Najma dan John terlihat
heran membaca kartu ucapan buatanku? Apa mereka tahu itu tulisan tanganku?”
tanya Mahsa sendiri.
“Ah, tidak mungkin mereka tahu itu
tulisanku.” Sambungnya lagi, lantas langsung pulang sebelum amarah ibunya makin
besar.
***
“Mahsaaaa!!!!!
Sudah siang! Ayo bangun!” suara gedoran pintu memaksa mata Mahsa membuka.
Gadis
itu terduduk ngantuk di atas kasur. Dilihatnya sajadah dan rukuh uang sudah ia
lipat rapi setelah sholat subuh tadi. Pandangannya beralih ke jam dinding, dan
matanya langsung membuka sempurna, kantuknya lenyap entah kemana.
“Mahsaaa! Ayo bangun, Nak! Buka
pintunya!” gedoran pintu itu makin keras. Tapi suara ibunya lebih keras.
Mahsa
langsung kalang kabut berganti pakaian.
“Iya, buuuu! Sebentar.”
“Santri kok bangun telat! Santri itu
bangunnya selalu tepat!” gerutu ibunya lagi.
Setelah
ganti, Mahsa langsung ke ruang makan. Disana ia sudah ditunggu ibunya.
“Wah! Nasi goreng!” pekiknya girang,
lantas langsung melahap menu sarapan itu.
“Ayah sudah ke kantor duluan. Jadi
nanti kamu naik angkot ke kampusnya. Salah sendiri kesiangan.”
“Iya, bu. Nggak masalah.”
“Sudah sholat dhuha?”
“Mandi saja belum, bu.” Jawab Mahsa,
jujur.
“Oh,
pantas saja. Itu ada kotoran di mata kamu. Bersihkan dulu. Nanti jatuh ke nasi
gorengmu, lho.”
“Nanti
saja, bu.”
“Aduh,
anak ibu satu ini…cantik-cantik kok jorok.” Goda ibu Mahsa. Yang digoda tidak
merespon. Hanya tersenyum kecut, lalu memakan lagi nasi goreng di depannya.
“Jorok
kayak gini saja banyak yang suka, apalagi kalau wangi dan habis mandi. Bisa-bisa
bidadari pada iri, bu.” Balas Mahsa sekenanya.
“Iya,
deh…anak ibu memang cantik dan baik. Meski kadang-kadang jorok dan malas
mandi.”
“Ya…persis
seperti ibunya.” Sahut Mahsa –bergaya- polos.
“Nak…nak…bisa
saja kamu ini. Ya sudah, cepat habiskan dan lekas kuliah sana! Jangan lupa cuci
muka atau wudhu dulu. Ibu nggak mau wajah cantikmu dirusak kotoran itu.”
“Siap,
bu.”
***
Sampai di kampus, Mahsa terlambat 30
menit.
“Mahasiswa
baru kok terlambat! Tutup pintunya dari luar!” dosen killer itu menyalak
galak. Mahsa, yang perwatakannya cuek bebek, tanpa mengeluh langsung melakukan
perintah itu. Biasalah, kebanyakan jebolan pondok memang tidak terlalu
memusingkan masalah beginian. Buat apa dipusingkan?
Dan,
entah karena kebetulan atau apa, Najma juga terlambat. Senasib dengan Mahsa.
“Kau
juga terlambat, Ma?” tanya Mahsa di perpustakaan, tempat ia biasa nongkrong.
“Iya.
Puh…padahal Cuma terlambat 5 menit. Dosen itu memang terkenal killer. Nggak berperasaan!”
“Santai.
Disyukuri saja, Ma. Oh ya, sudah baikan sama John, belum?”
Tiba-tiba Najma tertawa.
“Sudah.”
Jawab Najma pendek, lantas tertawa lagi.
Mahsa menghela nafas lega. Berkat
dua pisang susu dan kartu ucapan buatannya, dua buah perbedaan dapat membaur
dan sekarang berteman. Mahsa percaya, selalu ada keindahan diantara perbedaan.
Apalagi di negeri seribu satu budaya ini.
“Kenapa
kau tertawa sih, Ma?”
“Karena
ini!” Najma mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kartu ucapan buatanku,
batin Mahsa.
“Kenapa
dengan ini?”
“Ya
lucu saja. John bilang di sini, ‘selamat makan pisang susu’. Aduh, padahal yang
betul pisang Ambon! Masa’ ada pisang susu sebesar itu? John…John…padahal
katanya dia vegetarian, lho. Haha…sungguh lucu, kan?”
Mahsa nyaris tercekat mendengar itu.
Ibunya memang tak pernah bilang jenis pisang apa itu. Dialah yang menyimpulkan
sendiri bahwa itu pisang susu. Kini terang sudah kenapa Najma dan John terlihat
heran kemarin.
“Oh,
begitu…haha…iya, lucu!” Mahsa tertawa kaku, berusaha menyembunyikan malu.
Blitar,
29-9-2016 (selesai saat sore sungguh syahdu)
*) Santri Suci yang tersesat di jalan yang
benar.