Kamis, 28 April 2016

Ujung Tusuk Sate (puisi)

Karya : M Bahrul F

Seraut mata memejam
Ujung matanya menembus celah kehidupan
lurus...    Terus tak pendar akan penderitaan
Hari gelap dan semakin gelap sesaat asap mengepul
Kini hanya tangisan tesembunyi dibalik jeritan

Mataku berjalan menyusuri pinggir jalan kekuasaan
terlihat menyesakkan penuh bangkai pelampiasan
Tatapan mayat melepuh dimakan nafsu penguasa
Tirani kehidupan perang sejarah salib ditabuh..  dan akhirnya padam

Aku..
Aku..  tak mampukah aku wahai sang penguasa keji.
Melawanmu dan membunuhmu.
Sula tak membuatku gentar
Bala tentaramu semangatpun belum pudar

Namun malam berjalan dengan iringan pedang. aku hina
Ratusan ribu jari kau terlantarkan
Daging-daging kau tancapkan
Kau tahu...    penderitaan mereka?
Sedangkan kau hanya tertawa menginjak potongan kepala manusia

Aku menangis saat diri kecil itu menancap
melukai seluruh kaum kami,  Tamat

Rabu, 20 April 2016

Santri Baru Yang Sukses


Harus Ada Perbedaan Antara Sebelum Mondok Dan Sesudah Mondok

Pesan dari Romo KH. Masbuhin Faqih

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik

Anak-anakku sekalian.

Pesan saya yang selanjutnya adalah tentang akhlaq al-karimah. Bagaimana kamu sekalian telah dididik berakhlak di pesantren ini, terutama berakhlak kepada Allah s.w.t, seperti ketika salat harus memakai pakaian berwarna putih. Semua ini adalah agar kamu sekalian bisa berlaku sopan dan santun terhadap Allah s.w.t. Sehingga tercipta pula tatakrama kepada manusia, khususnya kepada kedua orang tuamu, ingat!

Keridhaan Allah itu terletak pada keridlaan orang tua begitu juga murka-Nya terletak pada murka orang tua pula

Jangan sampai engkau menyakiti hati keduanya, dan usahakan mereka senang dan bangga mempunyai anak yang shalih dan shalihah seperti kalian. Salah satunya dengan tetap menjaga jiwa kesantrianmu dan diamalkan di rumah kelak.

Hal yang juga penting adalah menghormati asatidz di desa. Ketahuilah, mereka adalah guru pertama kali yang mendidik dan menjadikan kamu sebagai orang yang alim. Walaupun mereka hanya mengajar ‘turutan'(TPQ) saja, tapi tetap harus dihormati dan disambung tali silaturrahim dengannya, lebih-lebih pada hari raya besok. Maka kunjungilah mereka, mintai do’a dan cium tangannya.

Sesungguhnya tidak ada bekas guru atau mantan guru, guru tetaplah guru, sekalipun mereka hanya bisa membaca kitab Sullam Safinah, sedangkan kamu sudah menguasai kitab Fath al-Mu’in. Tapi saya yakin, mereka masih mendoakan kamu sekalian.

Dan yang terakhir kepada para santri khusunya khirrij(alumnus) pesantren Mamba’us Sholihin untuk senantiasa Tazkiyatun nafs, membersihkan kotoran hati, karena hati adalah tempat melihat keagungan Allah Mahal Nadr Allah. Sehingga jika hati kita bersih dan suci dari kotoran
insya Allah, cahaya ilahiyyah akan masuk ke lubuk hati kita yang paling dalam.

Sehingga bagaimanapun alimnya seseorang, tapi jika hatinya kotor maka amalannya tidak ada harganya. Salah satu cara untuk membersihkan hati kita adalah dengan melanggengkan dan istiqamah membaca aurod, baik itu wird al-Atthash, wird al-Haddad, Burdah, Manaqib, Dalail al-Khairat dan lain sebagainya, utamanya aurod yang dibaca di pesantren yang telah saya ijazahkan. Karena aurod yang saya baca sekarang ini muttashil ila mu’allifihi, sambung kepada pengarangnya hingga rasulullah s.a.w, dan saya yakin manfaatnya sangat banyak sekali bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.

dikutip dari:
https://mambaussholihin3benjeng.wordpress.com

Rabu, 13 April 2016

Motivasi Kita

By: Lutfi El Hamim

ان مع العسر يسرا

setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

 jika kita pernah merasa sulit, yakinlah akan ada hasil yang menanti di depan sana.


Seperti semboyan ibu Kartini:

habis gelap terbitlah terang.

sesukar apapun masalah yang sedang kita hadapi, fajar pagi akan selalu menerangi kelamnya malam.


Juga seperti pantun Indonesia:

berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian.

bersakit-sakit kita dahulu, bersenang-senang kemudian.

Susah dan senang akan silih berganti, jangan berkecil hati ketika susah, dan jangan terlalu larut dalam kesenangan.

Terakhir jangan lupa kata dari Mario Teguh:

Setiap orang mempunyai jatah gagal, habiskan jatah gagalmu saat masih muda.


Mari berjuang
tanpa mengharap pujian,
tanpa mengharap imbalan,
tanpa memandang keterbatasan,
tanpa menunggu teguran,

mari berjuang
untuk kemajuan,
untuk masa depan,
untuk kebaikan,
untuk harapan kita...