Senin, 31 Oktober 2016

أَهَمِّيَةِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ (Teks Pidato B. Arab+Terjemah)



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ أَفْضَلَ اللُّغَاتِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَم  عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ السَّادَاتِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ إِلىَ يَوْمِ المِيْعَادِ.
حَضَرَةُ المُخْتَرَمِين نَخُصُّو صَاحِبَ الفضيله والسعادة مُدِيْرُ المَعْهَد منبع الصالحين الشيخ الحاج مَسْبُوْحِيْن فَقِيْهْ, أَيُّهَا الاَسَاتِذَةُ الكِرَامِ, وَأَيُّهَا الحاضرون و الحاضرات الاَحِبَّاءُ!
أَيُّهَا السَّادَةُ قُمْتُ بَيْنَ يَدَيْكُمْ لِأُقَدِّمَ عَلىَ حَضْرَتِكُمْ كَلِمَةً أَوْ كَلِمَتَيْنِ  فِي "أَهَمِّيَةِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ".
كَمَا لَايَخْفَى عَلَيْكُمْ أَنَّ اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ هِيَ أَفْصَحُ اللُّغَاتِ وَاَغْنَاهَا وَهِيَ لُغَةُ القُرْاَنِ وَلُغَةُ اللهِ الَّذِي أَنْزَلَ وَحْيَهُ بِهَا. كَمَا قال الله سبحانه وتعالى فِي غَيْرِ قَلِيْلٍ مِنَ الأَيَاتِ البَيِّنَاتِ " قُرْأَنًا عَرَبِيًّا" "بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ" إِلَى أَخِرِهِ. وَلَا يَخْفَى عَلَيْكُمْ أَيْضًا أَنَّ الُّلغَةَ العَرَبِيَّةَ هِيَ مِفْتَاحُ العُلُوْمِ الدِّيْنِيَّةِ وَلَايتسنى لِأَيِّ طَالِبٍ أَن يتجّر في العلوم الدينية بِغَيْرِ إِتْقَانِ الُّلغَةِ العَرَبِيَّةِ فَالُّلغَةُ العَرَبِيَّةُ هِيَ لُغَةُ المُسْلِمِيْن فِي جَمِيْعِ اَنْحَاءِ العَالَمِ.
بِهَذِهِ اللُّغَةِ نَقْرَأُ كِتَابَ اللهِ وَبِهَا أَيْضًا نَتَعَبَّدُ إِلَى اللهِ سبحانه وتعالى. فَيَجِبُ عَلىَ كُلِّ طَالِبٍ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي تَعَلُّمِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ بِكُلِّ جُهْدِهِ وَطَاقَتِهِ لِيَصِلَ إِلَى كُلِّ مَايَتَمَنَّاهُ مِنَ العُلُوْمِ الدِّيْنِيَّةِ.
أَيُّهَا الإِخْوَة! كَانَتِ الُّلغَةُ العَرَبِيَّةُ تَتَّسِعُ لِكُلِّ زَمَانٍ فَفِي اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ كَلِمَاتٍ فِي العُلُوْمِ وَالأَلَاتِ والصِّنَاعَاتِ الحَدِيْثَةِ مِمَّا لَايَحْتَاجُ إِلىَ التَّعْبِيْرِ عَنْهَا بِاللُّغَةِ الأَجْنَبِيَّةِ. فَهِمْتُمْ أَيُّهَا السَّادَةُ أَنَّ اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ قَدْ وَسِعَتْ كِتَابَ اللهِ لَفْظًا وَغَايَةً كَمَا قَالَ الحَافِظ فَكَيْفَ يَدَّعِي مدع أَنَّ الُّلغَةَ العَرَبِيَّةَ لَيْسَتْ لُغَةُ العُلُوْمِ وَلَيْسَتْ لُغَةُ العَصْرِ. فَإِنَّهَا كَانَتْ يَتَفَاهَمُ بِهَا أَكْثَرُ مِنْ 30 مِلْيُوْن عَرَبِيّ فيِ البِلاَدِ العَرِبِيَّةِ المُخْتَلِفَةِ.
أَيُّهَا السَّادَةُ الأَعِزَّاء! كَانَ العُلَمَاءُ أَبَاءُنَا القُدَمَاءُ يَجْتَهِدُوْنَ فِي أَنْ يُخْرِجُوْا أَوْلاَدَهُمْ عَرَبًا يَتَكَلَّمُوْنَ وَيَتَحَدَّثُوْنَ بِاللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ. فَبِهَذَا أَلَّفُوْا كُتُبَ اللُّغَةِ كَالنَّحْوِ وَالصَّرْفِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. هَذَا، لِيَسْهُلَ عَلَى الطَّالِبِ تَعَلُّمُ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ لِيَكُوْنَ اَدَاةً لَهُمْ، فَيَجِبُ عَلَيْنَا جَمِيْعًا اَنْ نَتَكَلَّمَ بِاللُّغَةِ الفُصْحَى الصَّحِيْحَةِ وَنَتَجَنَّب عَنِ اللُّغَةِ العَامَّةِ الَّتِي وَقَعِ فِيْهَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ وَلَانَسْتَعْمِلُ الكَلِمَاتِ فِي مُحَدَّثَتِنَا إِلَّا مَا صَحَّتْ كِتَابَتُهَا لِأَنَّهُ مِنْ وَاجِبَاتِنَا أَنْ نَنْشُرَ  هَذِهِ اللُّغَةَ الشَّرِيْفَةَ مَعَ المُحَافَظَةِ عَلى رِقَّتِهَا وَلُطْفِهَا وَفَصَاحَتِهَا إِلَى جَمِيْعِ طَبَقَاتِ المُسْلِمِيْنَ فِي أَيِّ مَكَانٍ كَانُوْا خُصُوْصًا طُلاَّبَ المَعَاهِدِ وَالمَدَارِسِ الَّذِيْنَ يُدَرِّسُوْنَ العُلُوْمَ الدِّيْنِيَّةِ فِي الكُتُبِ العَرَبِيَّةِ . هَذَا فَأَرْجُوْ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُّسَهِّلَ اُمُوْرَنَا وَيَفْتَحَ قُلُوْبَنَا وَيَجْعَلَنَا جَمِيْعًا مُتَكَلِّمِيْنَ بِاللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ بِجَاهِ سَيِّدِ البَرِيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.
والسلام عليكم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.




Yang saya hormati pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin, KH. Masbuhin Faqih.
Para dewan guru yang terhormat,
Para siswa dan siswi yang tercinta,
Hadirin yang saya hormati.
Berdirinya  saya dihadapan kalian untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata mengenai “Urgensi/pentingnya Bahasa Arab”.
Hadirin yang saya hormati.
Tidak salah lagi bahwa bahasa arab adalan bahasa yang paling fasih dan  balaghah yaitu bahasa Al-Qur’an, bahasa wahyu yang diturunkan oleh Allah. Sebagaimana Dia telah menyebutkannya dalam banyak ayat Al-Qur’an. diantara ayat: " قُرْأَنًا عَرَبِيًّا" "بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ"sampai akhir ayat. Dan  tidak diragukan lagi bahwa bahasa arab adalah kuncinya ilmu-ilmu pengetahuan agama, tanpa penguasaan bahasa arab yang baik maka tidak akan dapat mendalami ilmu-ilmu agama dengan benar, karena bahasa arab merupakan bahasa kaum muslimin di seluruh dunia.
Kita membaca Al-qur’an dan beribadah kepada Allah dengan menggunakan bahasa arab. Maka
wajib bagi setiap siswa/santri untuk mempelajari bahasa arab dengan sungguh-sungguh dan giat  supaya kita mencapai ilmu-ilmu agama yang kita inginkan.
Hadirin yang saya hormati.
Bahasa arab berlaku untuk setiap zaman, dalam bahasa arab ada kata-kata yang digunakan dalam ilmu-lmu pengetahuan, alat-alat dan industri modern yang tidak perlu diistilahkan ke dalam bahasa asing. Sebagaimana seorang penyair yang bernama Nail Hafidz Ibrahim berkata: bahwa saya memahami al-qur’an secara luas dalam segi arti dan maknanya, tidak memahaminya dalam pengertian yang sempit karena cakupannya luas. Bagaimana saya akan menggambarkan alat-alat dan nama industry-industri yang dibuat manusia dengan bahasa arab dalam satu lafadz/kata ketahuilah oleh kalian bahwa bahasa arab itu luas dari segi arti dan maksudnya dan bagaimana tidak dikatatan sebagai bahasa internasional (bahasa ilmu dan sains) karena bahasa arab ini telah dikuasai/dipahami oleh lebih dari 30juta orang di Negara-negara arab yang berbeda-beda.
Hadirin yang saya hormati.
Para ulama yang terdahulu bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anak mereka untuk dapat berbicara dengan bahasa arab. Oleh karena itu, mereka menyusun buku-buku tentang bahasa seperti buku nahwu- shorof dan sebagainya. Supaya dapat memudahkan bagi siswa/santri untuk mempelajari bahasa arab dan menjadi alat untuk memahaminya. Kita mesti menggunakan bahasa arab fushah/asli dan menjauhi bahasa arab pasaran/umum yang digunakan oleh banyak orang . Dan kita harus menggunakan kata dalam percakapan sehari-hari ini sesuai dengan tulisannya yang benar. Karena kewajiban kita sebagai umat islam untuk menyebarluaskan bahasa arab yang mulia ini dengan menjaga keaslian dan kemuliannya ke seluruh lapisan kaum muslimin dimana saja mereka berada terutama kepada para santri di pesantren dan di sekolah-sekolah yang sedang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam buku-buku berbahasa arab.
Dengan ini, saya memohon kepada Allah supaya memudahkan urusan-urusan kita dan membukakan hati kita supaya kita dapat berbicara dengan bahasa arab, dengan keagungan manusia terbaik putra sayyid Abdullah yakni Nabi Muhammad saw.

Senin, 03 Oktober 2016

Peringatan Tahun Baru Hijriyah


"Pak, Monggo nanti Kita Bersama Sama Habsyian"
ajak Ust. Muafi, Selaku Rois 'Amm pondok putra PP. Mambaus Sholihin 2.
"Oke, Siap" sahutan Khas para asatidz yang sekamar dengan beliau.

Mulai siang hari, semua perlengkapan sudah disiapkan, dengan cekatan penanggung jawab sound pondok, Didik Purnomo sudah men-setting segala keperluan untuk pembacaan sholawat Habsyi.

Tepat setelah jamaah Isya' selesai, semua santri menuju mushola barat, sebagai lokasi yang telah ditentukan.
Karena kapasitas yang tidak mencukupi, maka inisiatif para pengurus membeberkan terpal sebagai tambahan.

Malam yang dingin tidak menghalangi semangat para santri dalam melantunkan pembacaan sholawat secara bersama-sama, begitupun ketika hujan mulai turun dengan derasnya, cukup dengan cepat santri yang kehujanan mencari tempat berteduh terdekat, namun acara tetap berlangsung.

Sebagai malam yang cukup bersejarah, tidak lupa ada sedikit pesan dan nasehat untuk para santri, yang waktu itu disampaikan oleh Ust. Minhajil Qowim, S.Pd.I

Para santri dengan tenang dan khidmat mengikuti acara hingga selesai,
Semoga pada tahun baru 1438 Hijriyah ini, kita semua mendapat keberkahan dan Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala, hingga dapat menjadi sosok yang layak diakui oleh nabi tercinta, nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam.
Semoga dosa apapun yang kita lakukan pada tahun kemarin diampuni dzat yang maha mengampuni, amin.

Allahumma sholli 'ala Muhammad.

PENDIDIKAN ANAK SESUAI USIA

Artikel bagus... sayang klo dilewatkan,sedikit ilmu parenting... terus belajar dan belajar..

*Euis Kurniawati*
Masih terngiang2 kata bapak baik hati yg mengantar kami ke stasiun tawang tempo hari...
"Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya.
Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz.
Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah.
Tuntas 30 juz.
Tapi ...
saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu.
***
Fitrah keimanan (dibahas saat workshop) yg harusnya ditanam di 7 tahun pertama hidupnya ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus "restart" dari awal untuk mengulang proses yg terlewat".
Hmm,,,Jazakumullah khairan katsira nasehat berharganya pak,,,
Satu hal lagi yg saya dapat saat mengikuti worshop home education based fitrah and tallent di semarang bbrp waktu lalu bersama ust harry.
Didiklah anak sesuai fitrah.
Fitrah apa?
Ada bbrp fitrah.
Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas?
Wow, , ,
gimana itu?
***
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.
Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.
Jika ia laki2, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki2.
Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?
Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.
***
Usia 0 - 2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.
Menyusui, bukan memberi asi.
Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.
***
Usia 3 - 6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama.
***
Usia 7 - 10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.
Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya.
Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya.
Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.
Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya.
Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.
***
Usia 11 - 14 tahun
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Lintas gender.
Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.
*
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain.
Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.
Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih.
Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya.
Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya.
Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?
Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.
***
Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh.
Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.
Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2, karna kita hanya punya waktu 14 thn saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan.
Smoga *Allah*  melimpahkan kmampuan dan qt bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia ya..
#pentingnya_kurikulum
#janganburu2
#homebased_education
#home_education_based_akhlak_and_talent

Sabtu, 01 Oktober 2016

Jadilah…



By: Ubaidillah El-Qoyz

Jangan pernah jadi terlalu
Kebaikan hatimu bisa buatmu terbelenggu
Cintamu sanggup buatmu tertipu
Dan keluguanmu mampu menikam balik dirimu
Bukankah semua tragedi karena terlalu?
          Juliet bunuh diri karena terlalu
Romeo dibunuh kerajaan karena terlalu
Bahkan buaya pun ditipu kancil, pun karena terlalu
Sertakanlah logika pada tiap cinta
Iringilah kecerdikan pada tiap keluguan
Sadarilah semua ini Cuma permainan
Dan jangan jadi terlalu
Bukankah semua tragedy karena terlalu?

FREKUENSI CINTA 99 FM



 By: Ubaidillah El-Qoiz

Bismillahirrohmanirrohim.
Engkaulah hening sebelum semua bising.
Engkaulah detik dan detak sebelum semua gerik dan gerak.
Dalam 99 nama-Mu, tersimpan 99 keping rindu.
Jemput aku,yang hanya selangkah dari bibir surga-Mu. (catatan di malam dingin penuh angin)
           ***************************************************************
Namanya Bena, tampan, mapan, dewasa, umur masih dibawah kepala tiga dan single. Sekilas dia tampak sempurna untuk jadi suami idaman, sudah jadi rahasia umum bahwa telah banyak keluarga terpandang datang ke rumah Bena untuk satu tujuan yang sama dan selalu pulang dengan tangan hampa. Apa alasan Bena menolak semua pinangan itu?
Sederhana saja, ia telah jatuh cinta dengan pemilik suara merdu pengisi program radio “Ngobrol bareng kak Ratna.”  yang rutin mengudara tiap pukul 21.00 sampai 22.00 di saluran radio “Ar-Rahman FM.” Tiap malam,tidak sekalipun Bena absen mendengar suara lembut itu. Dan tentu kisah ini menjadi makin menarik karena Bena tahu nomor pujaan hatinya itu. Kak Ratna berbaik hati memberi nomor telefonnya bila ingin menanyakan solusi atas masalah-masalah tertentu.
Perlu digarisbawahi, Bena belum tahu seperti apa wajah pemilik suara itu. Tapi Bena cukup yakin kalau dia bijak, dewasa, plus sholehah. malam ini, untuk kesekian kalinya, Bena beruntung.
“...oke,selanjutnya...ada pertanyaan tentang masalah....ya ampun....masalah cinta!.” Radio klasik Bena bersuara jernih,  “Dear kak Ratna,apa yang sebaiknya kita lakukan saat jatuh cinta pada seseorang tapi malu mengakuinya? dari  Bang Bena...” begitu tahu pertanyaannya lah yang dibaca, Bena girang bukan buatan. Padahal niatnya mengirim itu hanya iseng.
“hmmm...pasti Bang Bena ini sedang kasmaran, ya?ciee...”suara lembut itu bertanya jenaka. Dalam kamarnya, Bena mengangguk-angguk macam orang-orangan sawah, tersipu-sipu sendiri.
“begini,Bang....jatuh cinta, tuh, ya...mau dikatakan atau tidak dikatakan, tetap saja namanya cinta... apa cinta harus dikatakan? tidak. kalau kata orang bijak, orang yang jatuh cinta diam-diam itu bagaikan orang yang menari takzim sendirian di hamparan rumput hijau, di bawah kungkungan sejuk embun pagi. Mau dilihat atau tidak dilihat orang, itu tetap indah, bukan?.” dan Bena terpana, lalu terpesona. Ia menutup mata, membayangkan ilustrasi itu, lalu mengangguk dengan senyum mengembang. betul, memang indah.
“.....saran saya nih, Bang.... kalau memang malu buat mengatakannya, sertakan saja namanya dalam tiap do’a Abang. Kenapa harus bingung? islam mengajari umatnya untuk berdo’a, bukan? dan bukankah Allah sudah berjanji, barang siapa bersungguh-sungguh dalam berdo’a, niscaya akan dikabulkan? Maka, silahkan dicoba, Bang Bena yang tengah dilanda asmara...ciee...”
Lagi-lagi, dalam gelap malam, dalam gelombang frekuensi 99 fm itu, Bena menemukan cintanya.
***
       Suasana pondok Ar-Rahman sedang ramai saat aku selesai siaran. Beberapa santriwati yang mengenalku mengucap salam, lantas menyalami tanganku bergantian. Mahsa, muridku yang paling aktif, sekaligus paling berani, bertanya genit.
“ustadzah Ratna, kapan nikah? apa perlu saya carikan, bu?”
        Aku tersenyum masam. pertanyaan itu lagi. diam-diam hati kecilku bertanya, kapan kira- kira murid kesayanganku itu berhenti bertanya masalah ‘sederhana tapi rumit’ ini?
“kalau sudah waktunya, Mahsa....kamu nggak bosan bertanya pertanyaan yang samaaaa terus dari kemarin-kemarin?”
“nggak...sama dengan ibu yang dengan jawaban yang juga samaaaa terus dari kemarin...hehe..”
“sudah-sudah....ibu mau ke kamar guru dulu......assalamualaikum...” sebelum teman-teman Mahsa ikut bertanya, ada baiknya aku kabur saja.
                       ****************************************************
 “haaiiii para pendengar dimanapun anda sekarang!....selamat datang di program radio sayaaa!!oke...langsung saja...ada pertanyaaan bagus nih dari Abang Bena...hari  ini Abang kirim banyak sekali pertanyaan, ya.....masalah cinta semua! hehe....tidak apa-apa, Bang....akan saya jawab sebisanya...” Bena setengah senang setengah cemas. Pertanyaan yang manakah yang akan dibaca kali ini?.
“Dear kak Ratna...apa yang dimaksud rindu? sekian. hmm....pertanyaan yang bagus, Bang....abang sedang rindu dengan siapa? hehe....”dalam kamarnya Bena menjawab sendiri, sambil tersipu,  “dengan suara kamu.”
“menurut saya pribadi nih, bang....rindu itu anugrah...tiap insan berhati mulia pasti punya rasa rindu. abang rindu seseorang, ya?”
“saya kasih tahu rahasia kecil....Allah itu maha pencemburu, Bang....abang buktinya. kalau abang dijauhkan dari seseorang yang abang rindukan, itu bisa jadi karena Abang banyak melupakan Allah....lha wong dijauhkan aja masih banyak lupanya, apalagi kalau dipertemukan? tapi, Allah juga maha romantis, lho, Bang....walau dipisah...abang dan dia masih bisa berhubungan lewat dua cara super romantis: do’a dan mimpi....sudahkah abang menyebut namanya dalam do’a abang?...”dalam kamarnya, hati Bena menguntai do’a:
“tuhan...masalah perasaan ini sungguh rumit...aku sungguh berharap dapat bertemu pemilik suara bijak ini. Engkaulah yang maha mempertemukan dan memisahkan. pada-Mu, aku memohon dan meminta. ”pukul 22.30, Bena terlelap disamping radio klasiknya. Wajah tampan itu damai.
                           ****************************************************
“untuk sekarang, pelajaran saya cukupkan. Jangan lupa kerjakan PR,ya.....! assalamualaikum. ”serentak, satu kelas membalas salamku, lantas bergantian menyalami tanganku. setelah selesai, saat aku bersiap-siap kembali, sebuah suara terdengar.
“ustadzah....saya ada masalah....ustadzah mau bantu, kan?”
Aku membalik badan, mendapati Mahsa dengan wajah cemberut menatapku penuh harap.
“mumpung sekarang jam istirahat, ikut ibu ke kantin, yuk.....ibu yang traktir, deh...khusus buat kamu...”
Mahsa tak menjawab, hanya mengangguk.
Di kantin, bakso pesanan Mahsa tak tersentuh. murid kesayanganku itu menunduk, menahan tangis. wajah cantik itu mendung.
“kenapa, nak? kamu kangen orang tua? pengen pulang dari pondok?” sebagai balasan, ia menggeleng.
“kamu pengen keluar pondok? refreshing?” ia masih menggeleng
“lantas kenapa?”
“saya dihina sama santri putra, bu....tadi pagi, saya menemukan ini di bawah bangku saya. coba ustadzah baca.” Mahsa menyerahkan secarik kertas.
Aku menghela nafas. ini pasti pekerjaan berandalan santri putra. tidak ada kapoknya memang sampah-sampah pondok itu.
“hmmm...kalau menurut ibu, mereka mengejek atau menggoda kamu itu sebab mereka ingin kamu marah. kamu, kan tambah cantik kalau sedang marah.” aku mencoba bercanda.
“tapi masa’ aku dibilang galak? dibilang tomboy? dan...” mahsa terbata berkata, “coba ustadzah baca, dalam kertas itu mereka berkata kalau aku cewek murahan! memangnya aku seburuk itu?!!” Mahsa terbawa emosi. Akhirnya ia menangis. Pelan.
“begini lho, nduk...” aku mengelus kerudungnya, memikirkan kata yang tepat, “kalau kamu direndahkan, berarti kamu ketinggian. Kalau kamu diejek, berarti kamu cantik. Kalau kamu dibicarakan banyak orang karena sifatmu yang inilah, itulah, itu bisa jadi bukti kalau hidup kamu lebih baik dari mereka. Faham?” ujarku lembut. jujur aku heran darimana dapat nasehat itu. Kata itu meluncur begitu saja dari lisanku.
Mahsa terdiam. samar- samar bibirnya mulai menggurat senyum.
“terimakasih...saya ada satu pertanyaan lagi.”
“apa itu?”
“ustadzah Ratna, kapan nikah?”
                                  ***********************************************
Hari ini Bena sial. Keberuntungan tampaknya mulai malas berpihak. pulang kerja hari ini ia terjebak macet total. Mungkin jika membawa motor besarnya ia masih mampu meliuk-liuk diantara sela-sela kendaraan. Namun kali ini ia membawa mobilnya. Kendaraan mewah itu berjalan macam siput kelaparan. Matahari juga tengah garang memanggang seisi kota. Pukul satu siang.
Dalam mobil, Bena menyesal telah pulang lebih awal. Coba saja dia tetap di kantor meski pekerjaanya telah selesai, mungkin sekarang ia tengah ngobrol santai dengan teman-teman kerjanya. Udara dalam mobil sungguh pengap. AC yang dinyalakan pun tak banyak membantu. Sial.
Tiba-tiba ponsel Bena berbunyi, SMS masuk. Mata Bena memicing, nomor yang asing, siapa? ragu bercampur ingin tahu, jempol bena mengetuk tulisan ‘open’, pesan itu membuka:
“untuk Abang Bena. Terimakasih sudah rajin bertanya ke program radio saya, bang. Ini nomor saya yang baru. Kalau ada pertanyaan silahkan kirim ke nomor ini. Dari saya, Ratna.”
Seketika! bagai bumi tengah diputar balik! Udara yang tadinya pengap entah kenapa terasa segar. Cuaca yang tadi panas berubah sejuk. Bena menoleh ke samping, ajaib! para pengemudi yang tadinya bau keringat, berwajah cemberut bin merengut, dan tak jarang memaki-maki, kini berubah wangi, berwajah ceria, dan saling menyapa! Jalan hitam aspal berubah wujud menjadi karpet merah nan mewah. Bunga-bunga berjatuhan dari langit, sungguh indah. Bena melihat sekeliling, astaga! ia tak lagi di jalanan! Mobil mewahnya berubah wujud menjelma kupu-kupu raksasa yang membawanya mengelilingi nirwana. Bena terpesona di pelangi berhiaskan peri-peri kecil bersayap mungil, terkesima di telaga sebening kaca, terpana di taman bunga berskala luas luar biasa.
Bena terkesiap! Bukan karena pemandangan magis berikutnya, melainkan karena imajinasi tingkat dewanya buyar disentak klakson mobil dibelakangnya. Ia kembali di tarik ke realita. Karpet merah serta khayalan lainnya barusan kembali sebagai mestinya. Jalan didepannya sudah lengang, tidak macet lagi. Bena menjalankan mobilnya. Hari itu sadar kalau ucapan para pujangga benar. Bahwa ketika kau jatuh cinta, segala yang kau lihat disekitarmu akan menjadi indah. Bahkan meski itu hal buruk sekalipun. Hanya karena sebuah pesan singkat!
Bena menghentikan mobilnya di pinggir jalan sejenak. Tangannya masih memegang smartphone-nya. Ia melihat lagi pesan itu. Tergerak untuk membalas:”iya…saya juga senang mendengar kata bijak kamu. Boleh kita ketemuan? saya ingin kenal kamu lebih dekat.”
‘ah…jangan..kalau begini kesannya buru-buru…ajak saja kenalan dulu. Jangan tergesa-gesa.’ suara hatinya menyarankan. Bena manggut-manggut, benar juga.
‘Bodoh! segera kirim pesan itu! tunggu apa lagi? mumpung ada kesempatan, broo! siapa tahu dia juga tertarik padamu? ayo..kirim!.’ suara hatinya yang lain membentak. Jempol bena bergegas mengetuk tulisan ‘send’.namun…
‘Stop! ya ampuun… kamu hampir melakukan kesalahan fatal! ingat kata orang jawa? alon-alon, asal kelakon. Jangan asal di-gas, dong! ingat nasehat lama? jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus, sakit nanti! dan bukankah witing trisno jalaran soko kulino? ’ panjang lebar, suara hatinya yang pertama menasehati.
‘Hadeh…kurang apa, sih, dirimu? tampan dapat, kaya sangat, kau pun tak lupa urusan akhirat. Kau rajin sholat, rutin zakat. bukankah tak terhitung wanita yang merapat namun kau tolak mereka semua dengan nasehat bermanfaat? berapa banyak pinangan wanita sholihah yang telah kau tepis? ingat kata orang bijak? kalau bukan kau yang mendekatinya, siapa lagi? keburu diambil orang! kalau bukan sekarang kesempatan mencuri hatinya, kapan lagi? ayo! kirim! kirim!’
Lama-lama Bena geregetan sendiri. Antara mengirim atau tidak pesan itu. Hatinya dilanda badai dilema. Bena meraupkan tangannya ke muka. Gemas plus jengkel pada dirinya sendiri. Ia tersenyum masam. Alih-alih mengirim, ia mematikan hp-nya, menancap gas, pulang.
Sampai rumah, Bena mencium punggung tangan ibu, sholat dhuhur, lalu lekas tidur. Untuk sekarang ia hanya ingin tidur. Ia ingin melupakan pusingnya, dilemanya, semuanya! meski sejenak.
                           ***************************************************
Pukul 21.00, jadwalku mengudara.
Aneh. Seperti ada sesuatu yang kurang. Tapi apa?aku melihat daftar pesan di ponselku. Hari ini ada tiga pertanyaan masuk.hmm…tumben sekali Bang Bena hari ini tidak bertanya. Padahal biasanya ia paling aktif bertanya. Sampai aku harus memilah mana yang pantas disebut ‘pertanyaan’ dan mana yang pantas disebut ‘curhatan’.
Apa mungkin dia tidak tahu kalau nomorku berganti? tapi tadi aku kan mengirim info? apa jangan-jangan hp-nya sedang mati? aku refleks memeriksa lagi pesanku. Tapi disini tulisannya ‘message sending’. lantas kenapa?.
Hei! kenapa aku jadi mencemaskannya?  bukankah aku harusnya lega tidak lagi meladeni pertanyaannya yang kadang sungguh tak penting? bukankah aku harusnya senang hp-ku tidak lagi penuh pesan darinya?.
Siaranku hari itu entah kenapa berjalan hampa. Ada apa? apa yang terjadi padaku? akhirnya, pukul 22.15, kuputuskan menambah koleksi buku bacaan. Sudah lama aku tak membeli buku. Kalau sudah kadung di toko buku terbesar di kota ini, aku tak bisa membeli satu-dua, minimal 9. Maka wajar jika aku pulang dari sana menenteng satu plastik besar berisi buku berbagai macam tema. Pondok Ar-Rahman memberi kebebasan keluar bagi guru sepertiku.
Menjelang pulang, tahu-tahu hujan turun tanpa diundang. Aduh…mana aku tidak bawa kendaraan, lagi… pangkalan ojek juga masih jauh. secepat mungkin, aku berusaha mencari tempat berteduh. hal terpenting sekarang adalah berteduh dari guyuran hujan.
              ****************************************************************
Di sini, Bena merenung. Betapa bodohnya dia. Sungguh bodoh! bagaimana mungkin ia bisa rindu pada orang yang bahkan tahu wajahnya saja belum? sungguh tolol! berapa banyak tunangan yang ia tolak hanya demi suara tanpa rupa yang tiap malam ia dengarkan? goblok betul!
“hai…boleh duduk?”
Lamunan Bena buyar. Ia menatap wanita di depannya. Wanita muda berkerudung biru, setengah basah kuyup, menenteng plastik besar, menatapnya penuh harap. Bena tersenyum dingin, mengangguk.
“Terimakasih. hmm…apa saya mengganggu?” Tanya wanita itu hati-hati.
“Sedikit. Tapi nggak apa-apa,kok…nggak cuma kamu yang berteduh di kafe ini. Tuh, ada banyak yang cuma numpang kayak kamu.”kata Bena santai.
“Hehe..iya...habis dari toko buku. Biasalah, mborong buku.hehe…”
“Oh ya? hobi baca?”
“Betul betul betul. Seratus buat tuan muda yang baik hati. Hehe…”
“Oh…begitu…naik apa kesini?”
“Naik sandal. Hehe…”
“Jalan kaki?.”
“Berangkatnya diantar teman. pulangnya habis ini mungkin cari ojek.”
“Mau saya antar? kebetulan saya bawa mobil.”
“Kalau nggak merepotkan, boleh.” wanita itu menjawab sopan. Padahal hatinya girang betulan. Sudah dapat tumpangan, yang menumpangi ganteng pula! aduh…wanita ini jadi terbawa perasaan!.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bena begitu melihat wanita di depannya seperti salah tingkah dan menahan-nahan sesuatu.
“Nggak apa-apa, kok…”
“Kamu kebelet pipis?.”
“Ngawur!” wanita itu tertawa malu-malu.
“Ya sudah…ayo saya antar. hujannya juga sudah reda.”
             ******************************************************************
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan bangunan besar dengan plang nama berwarna keemasan. Bena membacanya sekilas: Pondok pesantren Ar-Rahman. Nama yang familiar di telinga Bena, entah kenapa.
“Terimakasih…saya mengajar di pondok ini…kalau ada waktu, silahkan ke sini.oh…ya ampun… kita belum kenalan, ya? nama tuan muda yang baik hati ini siapa?”
“Bena. kamu?”
“Ratna.” mereka terpaku. Dan waktu bagai beku. (Tamat.)