By: Ubaidillah El-Qoiz
Bismillahirrohmanirrohim.
Engkaulah hening sebelum semua bising.
Engkaulah detik dan detak sebelum semua gerik dan gerak.
Dalam 99 nama-Mu, tersimpan 99 keping rindu.
Jemput aku,yang hanya selangkah dari bibir surga-Mu. (catatan di
malam dingin penuh angin)
***************************************************************
Namanya Bena, tampan, mapan, dewasa, umur masih dibawah kepala tiga dan single. Sekilas dia tampak sempurna untuk jadi suami
idaman, sudah jadi rahasia umum bahwa telah banyak keluarga terpandang datang ke
rumah Bena untuk satu tujuan yang sama dan selalu pulang dengan tangan hampa. Apa alasan Bena menolak semua pinangan itu?
Sederhana saja, ia telah jatuh cinta dengan pemilik suara merdu
pengisi program radio “Ngobrol bareng kak Ratna.” yang
rutin mengudara tiap pukul 21.00 sampai 22.00 di saluran radio “Ar-Rahman FM.”
Tiap malam,tidak sekalipun Bena absen mendengar suara lembut itu. Dan tentu kisah ini menjadi makin menarik karena Bena tahu nomor pujaan hatinya itu. Kak
Ratna berbaik hati
memberi nomor telefonnya bila ingin menanyakan solusi atas masalah-masalah
tertentu.
Perlu digarisbawahi, Bena belum tahu seperti apa wajah pemilik suara
itu. Tapi Bena cukup yakin kalau dia bijak, dewasa, plus sholehah. malam ini, untuk kesekian kalinya, Bena beruntung.
“...oke,selanjutnya...ada pertanyaan tentang
masalah....ya ampun....masalah cinta!.” Radio klasik Bena bersuara jernih, “Dear kak Ratna,apa yang sebaiknya kita
lakukan saat jatuh cinta pada seseorang tapi malu mengakuinya? dari Bang Bena...” begitu tahu pertanyaannya lah
yang dibaca, Bena girang bukan buatan. Padahal niatnya mengirim itu hanya
iseng.
“hmmm...pasti Bang Bena ini sedang kasmaran, ya?ciee...”suara lembut itu bertanya jenaka. Dalam
kamarnya, Bena mengangguk-angguk macam orang-orangan sawah,
tersipu-sipu sendiri.
“begini,Bang....jatuh cinta, tuh, ya...mau
dikatakan atau tidak dikatakan, tetap saja namanya cinta... apa cinta harus
dikatakan? tidak. kalau kata orang bijak, orang yang jatuh cinta diam-diam itu
bagaikan orang yang menari takzim sendirian di hamparan rumput hijau, di bawah
kungkungan sejuk embun pagi. Mau dilihat atau tidak dilihat orang, itu tetap
indah, bukan?.” dan Bena terpana, lalu terpesona. Ia menutup mata, membayangkan ilustrasi itu, lalu mengangguk dengan senyum mengembang. betul, memang indah.
“.....saran saya nih, Bang.... kalau memang malu buat mengatakannya, sertakan
saja namanya dalam tiap do’a Abang. Kenapa harus bingung? islam mengajari
umatnya untuk berdo’a, bukan? dan bukankah Allah sudah berjanji, barang siapa
bersungguh-sungguh dalam berdo’a, niscaya akan dikabulkan? Maka, silahkan dicoba, Bang Bena yang tengah dilanda asmara...ciee...”
Lagi-lagi, dalam gelap malam, dalam gelombang frekuensi 99 fm itu, Bena menemukan cintanya.
***
Suasana pondok Ar-Rahman sedang ramai saat aku selesai siaran. Beberapa
santriwati yang mengenalku mengucap salam, lantas menyalami tanganku
bergantian. Mahsa, muridku yang paling aktif, sekaligus paling berani, bertanya
genit.
“ustadzah Ratna, kapan nikah? apa perlu saya carikan, bu?”
Aku tersenyum masam. pertanyaan itu lagi. diam-diam hati kecilku bertanya, kapan kira-
kira murid kesayanganku itu berhenti bertanya masalah ‘sederhana tapi rumit’
ini?
“kalau sudah
waktunya, Mahsa....kamu nggak bosan bertanya pertanyaan
yang samaaaa terus dari kemarin-kemarin?”
“nggak...sama dengan ibu yang dengan jawaban
yang juga samaaaa terus dari kemarin...hehe..”
“sudah-sudah....ibu mau ke kamar guru
dulu......assalamualaikum...” sebelum teman-teman Mahsa ikut bertanya, ada
baiknya aku kabur saja.
****************************************************
“haaiiii
para pendengar dimanapun anda sekarang!....selamat datang di program radio
sayaaa!!oke...langsung saja...ada pertanyaaan bagus nih dari Abang
Bena...hari ini Abang kirim banyak
sekali pertanyaan, ya.....masalah cinta semua! hehe....tidak apa-apa, Bang....akan
saya jawab sebisanya...” Bena setengah senang setengah cemas. Pertanyaan yang
manakah yang akan dibaca kali ini?.
“Dear kak Ratna...apa yang dimaksud rindu? sekian.
hmm....pertanyaan yang bagus, Bang....abang sedang rindu dengan siapa? hehe....”dalam
kamarnya Bena menjawab sendiri, sambil tersipu, “dengan suara kamu.”
“menurut saya pribadi nih, bang....rindu itu anugrah...tiap insan berhati mulia pasti punya rasa
rindu. abang rindu seseorang, ya?”
“saya kasih tahu rahasia kecil....Allah itu
maha pencemburu, Bang....abang buktinya. kalau abang dijauhkan dari seseorang
yang abang rindukan, itu bisa jadi karena Abang banyak melupakan Allah....lha
wong dijauhkan aja masih banyak lupanya, apalagi kalau dipertemukan? tapi,
Allah juga maha romantis, lho, Bang....walau dipisah...abang dan dia masih bisa
berhubungan lewat dua cara super romantis: do’a dan mimpi....sudahkah abang
menyebut namanya dalam do’a abang?...”dalam kamarnya, hati Bena menguntai do’a:
“tuhan...masalah perasaan ini sungguh
rumit...aku sungguh berharap dapat bertemu pemilik suara bijak ini. Engkaulah
yang maha mempertemukan dan memisahkan. pada-Mu, aku memohon dan meminta. ”pukul 22.30, Bena terlelap disamping radio klasiknya. Wajah tampan itu
damai.
****************************************************
“untuk sekarang, pelajaran saya cukupkan. Jangan
lupa kerjakan PR,ya.....! assalamualaikum. ”serentak, satu kelas membalas salamku, lantas bergantian menyalami tanganku. setelah selesai, saat aku bersiap-siap kembali, sebuah suara terdengar.
“ustadzah....saya ada masalah....ustadzah mau
bantu, kan?”
Aku membalik badan, mendapati Mahsa dengan wajah cemberut menatapku penuh
harap.
“mumpung sekarang jam istirahat, ikut ibu ke kantin, yuk.....ibu yang traktir, deh...khusus buat kamu...”
Mahsa tak menjawab, hanya mengangguk.
Di kantin, bakso pesanan Mahsa tak tersentuh. murid kesayanganku itu menunduk, menahan tangis. wajah cantik itu mendung.
“kenapa, nak? kamu kangen orang tua? pengen pulang dari pondok?” sebagai balasan, ia menggeleng.
“kamu pengen keluar pondok? refreshing?” ia masih menggeleng
“lantas kenapa?”
“saya dihina sama santri putra, bu....tadi
pagi, saya menemukan ini di bawah bangku saya. coba ustadzah baca.” Mahsa menyerahkan secarik kertas.
Aku menghela nafas. ini pasti pekerjaan berandalan santri putra. tidak ada kapoknya memang sampah-sampah pondok itu.
“hmmm...kalau menurut ibu, mereka mengejek
atau menggoda kamu itu sebab mereka ingin kamu marah. kamu, kan tambah cantik
kalau sedang marah.” aku mencoba bercanda.
“tapi masa’ aku dibilang galak? dibilang
tomboy? dan...” mahsa terbata berkata, “coba ustadzah baca, dalam kertas itu
mereka berkata kalau aku cewek murahan! memangnya aku seburuk itu?!!” Mahsa terbawa
emosi. Akhirnya ia menangis. Pelan.
“begini lho, nduk...” aku mengelus
kerudungnya, memikirkan kata yang tepat, “kalau kamu direndahkan, berarti kamu
ketinggian. Kalau kamu diejek, berarti kamu cantik. Kalau kamu dibicarakan
banyak orang karena sifatmu yang inilah, itulah, itu bisa jadi bukti kalau
hidup kamu lebih baik dari mereka. Faham?” ujarku lembut. jujur aku heran darimana dapat nasehat itu. Kata itu meluncur begitu saja dari lisanku.
Mahsa terdiam. samar- samar bibirnya mulai menggurat senyum.
“terimakasih...saya ada satu pertanyaan lagi.”
“apa itu?”
“ustadzah Ratna, kapan nikah?”
***********************************************
Hari ini Bena sial. Keberuntungan tampaknya
mulai malas berpihak. pulang kerja hari ini ia terjebak macet total. Mungkin jika
membawa motor besarnya ia masih mampu meliuk-liuk diantara sela-sela kendaraan.
Namun kali ini ia membawa mobilnya. Kendaraan mewah itu berjalan macam siput
kelaparan. Matahari juga tengah garang memanggang seisi
kota. Pukul satu siang.
Dalam mobil, Bena menyesal telah pulang lebih awal. Coba saja dia tetap di kantor meski pekerjaanya telah selesai, mungkin sekarang ia tengah ngobrol santai dengan teman-teman kerjanya. Udara dalam mobil sungguh pengap. AC
yang dinyalakan pun tak banyak membantu. Sial.
Tiba-tiba
ponsel Bena berbunyi, SMS masuk. Mata Bena memicing, nomor yang asing, siapa? ragu
bercampur ingin tahu, jempol bena mengetuk tulisan ‘open’, pesan itu
membuka:
“untuk Abang Bena. Terimakasih sudah rajin bertanya ke program
radio saya, bang. Ini nomor saya yang baru. Kalau ada pertanyaan silahkan kirim
ke nomor ini. Dari saya, Ratna.”
Seketika! bagai
bumi tengah diputar balik! Udara yang tadinya pengap entah kenapa terasa segar.
Cuaca yang tadi panas berubah sejuk. Bena menoleh ke samping, ajaib! para
pengemudi yang tadinya bau keringat, berwajah cemberut bin merengut, dan tak
jarang memaki-maki, kini berubah wangi, berwajah ceria, dan saling menyapa!
Jalan hitam aspal berubah wujud menjadi karpet merah nan mewah. Bunga-bunga
berjatuhan dari langit, sungguh indah. Bena melihat sekeliling, astaga! ia tak
lagi di jalanan! Mobil mewahnya berubah wujud menjelma kupu-kupu raksasa yang
membawanya mengelilingi nirwana. Bena terpesona di pelangi berhiaskan peri-peri
kecil bersayap mungil, terkesima di telaga sebening kaca, terpana di taman
bunga berskala luas luar biasa.
Bena terkesiap!
Bukan karena pemandangan magis berikutnya, melainkan karena imajinasi tingkat
dewanya buyar disentak klakson mobil dibelakangnya. Ia kembali di tarik ke
realita. Karpet merah serta khayalan lainnya barusan kembali sebagai mestinya.
Jalan didepannya sudah lengang, tidak macet lagi. Bena menjalankan mobilnya.
Hari itu sadar kalau ucapan para pujangga benar. Bahwa ketika kau jatuh cinta,
segala yang kau lihat disekitarmu akan menjadi indah. Bahkan meski itu hal
buruk sekalipun. Hanya karena sebuah pesan singkat!
Bena menghentikan mobilnya di pinggir jalan sejenak. Tangannya
masih memegang smartphone-nya. Ia melihat lagi pesan itu. Tergerak untuk
membalas:”iya…saya juga senang mendengar kata bijak kamu. Boleh kita ketemuan? saya
ingin kenal kamu lebih dekat.”
‘ah…jangan..kalau begini kesannya buru-buru…ajak saja kenalan dulu.
Jangan tergesa-gesa.’ suara hatinya menyarankan. Bena manggut-manggut, benar
juga.
‘Bodoh! segera kirim pesan itu! tunggu apa lagi? mumpung ada
kesempatan, broo! siapa tahu dia juga tertarik padamu? ayo..kirim!.’ suara
hatinya yang lain membentak. Jempol bena bergegas mengetuk tulisan ‘send’.namun…
‘Stop! ya ampuun… kamu hampir melakukan kesalahan fatal! ingat kata
orang jawa? alon-alon, asal kelakon. Jangan asal di-gas, dong! ingat
nasehat lama? jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus, sakit nanti! dan
bukankah witing trisno jalaran soko kulino? ’ panjang lebar, suara
hatinya yang pertama menasehati.
‘Hadeh…kurang apa, sih, dirimu? tampan dapat, kaya sangat, kau pun
tak lupa urusan akhirat. Kau rajin sholat, rutin zakat. bukankah tak terhitung
wanita yang merapat namun kau tolak mereka semua dengan nasehat bermanfaat? berapa
banyak pinangan wanita sholihah yang telah kau tepis? ingat kata orang bijak?
kalau bukan kau yang mendekatinya, siapa lagi? keburu diambil orang! kalau
bukan sekarang kesempatan mencuri hatinya, kapan lagi? ayo! kirim! kirim!’
Lama-lama Bena
geregetan sendiri. Antara mengirim atau tidak pesan itu. Hatinya dilanda badai
dilema. Bena meraupkan tangannya ke muka. Gemas plus jengkel pada dirinya
sendiri. Ia tersenyum masam. Alih-alih mengirim, ia mematikan hp-nya, menancap
gas, pulang.
Sampai rumah, Bena mencium punggung tangan ibu, sholat dhuhur, lalu
lekas tidur. Untuk sekarang ia hanya ingin tidur. Ia ingin melupakan pusingnya,
dilemanya, semuanya! meski sejenak.
***************************************************
Pukul 21.00, jadwalku mengudara.
Aneh. Seperti ada
sesuatu yang kurang. Tapi apa?aku melihat daftar pesan di ponselku. Hari ini
ada tiga pertanyaan masuk.hmm…tumben sekali Bang Bena hari ini tidak bertanya.
Padahal biasanya ia paling aktif bertanya. Sampai aku harus memilah mana yang
pantas disebut ‘pertanyaan’ dan mana yang pantas disebut ‘curhatan’.
Apa mungkin dia tidak tahu kalau nomorku berganti? tapi tadi aku
kan mengirim info? apa jangan-jangan hp-nya sedang mati? aku refleks memeriksa
lagi pesanku. Tapi disini tulisannya ‘message sending’. lantas kenapa?.
Hei! kenapa aku
jadi mencemaskannya? bukankah aku
harusnya lega tidak lagi meladeni pertanyaannya yang kadang sungguh tak
penting? bukankah aku harusnya senang hp-ku tidak lagi penuh pesan darinya?.
Siaranku hari itu entah kenapa berjalan hampa. Ada apa? apa yang
terjadi padaku? akhirnya, pukul 22.15, kuputuskan menambah koleksi buku bacaan.
Sudah lama aku tak membeli buku. Kalau sudah kadung di toko buku terbesar di
kota ini, aku tak bisa membeli satu-dua, minimal 9. Maka wajar jika aku pulang dari
sana menenteng satu plastik besar berisi buku berbagai macam tema. Pondok Ar-Rahman
memberi kebebasan keluar bagi guru sepertiku.
Menjelang pulang, tahu-tahu hujan turun tanpa diundang. Aduh…mana
aku tidak bawa kendaraan, lagi… pangkalan ojek juga masih jauh. secepat
mungkin, aku berusaha mencari tempat berteduh. hal terpenting sekarang adalah
berteduh dari guyuran hujan.
****************************************************************
Di sini, Bena merenung. Betapa bodohnya dia. Sungguh bodoh! bagaimana
mungkin ia bisa rindu pada orang yang bahkan tahu wajahnya saja belum? sungguh
tolol! berapa banyak tunangan yang ia tolak hanya demi suara tanpa rupa yang
tiap malam ia dengarkan? goblok betul!
“hai…boleh duduk?”
Lamunan Bena buyar. Ia menatap wanita di depannya. Wanita muda
berkerudung biru, setengah basah kuyup, menenteng plastik besar, menatapnya
penuh harap. Bena tersenyum dingin, mengangguk.
“Terimakasih. hmm…apa saya mengganggu?” Tanya wanita itu hati-hati.
“Sedikit. Tapi nggak apa-apa,kok…nggak cuma kamu yang berteduh di
kafe ini. Tuh, ada banyak yang cuma numpang kayak kamu.”kata Bena santai.
“Hehe..iya...habis dari toko buku. Biasalah, mborong buku.hehe…”
“Oh ya? hobi baca?”
“Betul betul betul. Seratus buat tuan muda yang baik hati. Hehe…”
“Oh…begitu…naik apa kesini?”
“Naik sandal. Hehe…”
“Jalan kaki?.”
“Berangkatnya diantar teman. pulangnya habis ini mungkin cari
ojek.”
“Mau saya antar? kebetulan saya bawa mobil.”
“Kalau nggak merepotkan, boleh.” wanita itu menjawab sopan. Padahal
hatinya girang betulan. Sudah dapat tumpangan, yang menumpangi ganteng pula! aduh…wanita
ini jadi terbawa perasaan!.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bena begitu melihat wanita di depannya
seperti salah tingkah dan menahan-nahan sesuatu.
“Nggak apa-apa, kok…”
“Kamu kebelet pipis?.”
“Ngawur!” wanita itu tertawa malu-malu.
“Ya sudah…ayo
saya antar. hujannya juga sudah reda.”
******************************************************************
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan bangunan besar dengan plang
nama berwarna keemasan. Bena membacanya sekilas: Pondok pesantren Ar-Rahman.
Nama yang familiar di telinga Bena, entah kenapa.
“Terimakasih…saya mengajar di pondok ini…kalau ada waktu, silahkan
ke sini.oh…ya ampun… kita belum kenalan, ya? nama tuan muda yang baik hati ini
siapa?”
“Bena. kamu?”
“Ratna.” mereka terpaku. Dan waktu bagai beku. (Tamat.)