By: Ubaidillah el-qoys
/1/ Orang itu bernama Wahyu Sukma
Wijaya
Namaku Candra, kelas tiga SMA. Hari
ini, sekolahku kedatangan guru baru bernama Wahyu Sukma Wijaya, dipanggil pak
Jaya. Dia mengajar bahasa Inggris, dan kami langsung suka cara mengajarnya yang
humoris tapi sungguh memikat. Beda betul dengan bu Yasmin, guru sosiologi kami,
yang meski cantik wajahnya, tapi saat mengajar keluar taringnya. Ya, ia suka
marah-marah! Dan jarang sekali kami melihatnya tersenyum saat mengajar. Lebih
sering merengut. Sebaliknya, pak Jaya murah senyum sekali, plus humoris. Pernah
ia bertanya pada kami,
“Kalian tahu, mengapa bahasa
internasional adalah bahasa Inggris?”
Dahlia, bintang kelas kami,
mengacung. “Karena Inggris adalah negara adikuasa dan mempunyai pengaruh besar
dalam politik dunia, pak.”
Bisri, kutubuku kelas kami, juga mengacung.
“Sebenarnya negara terkuat adalah Cina, Dahlia. Bukan Inggris. Jadi, alasan
yang tepat adalah karena bahasa Inggris mudah dipelajari oleh semua orang di
seluruh dunia.”
Aku menyahut sekenanya, “Sudah
takdir, pak.”
“Baik. Jawaban kalian benar. Tapi,
inilah jawaban versi saya: karena kalau bahasa internasional adalah bahasa
Jawa, semua kata sapaan di dunia akan berubah menjadi monggo. Tak akan
ada lagi good morning, good afternoon, atau good night. Semua
akan menyapa sesamanya dengan mengucap, ‘monggo, pak... monggo, bu...’.
tidakkah itu membosankan?” Kami tertawa kecil, tapi manggut-manggut
mendengarnya. Sejak ia memperkenalkan diri pada kami sampai ia mengajar, ia
selalu bagaikan magnet raksasa, dan kami selalu bagaikan sebatang besi. Oh ya,
kalau masih bingung mencari alasan untuk menyukai pak Jaya, barangkali ini bisa
menjadi salah satu pilihan: selama mengajar, ia berjanji tak akan memberi kami
tugas mau pun PR! Merdeka!
Tapi, untuk kebebasan itu ia
meminta satu syarat, sederhana saja, jangan pernah bertanya pertanyaan ini
padanya: “Pak, kapan nikah?”
/2/ Colosseum.
Sejak aku
membaca kisah Malala Yousafzai yang rela tertembak demi pendidikan anak-anak
Taliban, aku selalu percaya bahwa pendidikan memang jalan terbaik untuk
mengatasi segala permasalahan yang terkait dengan pemuda, atau dalam skala yang
lebih luas, negara.
Tetapi,
ternyata anggapan tanpa aksi nyata adalah omong kosong. Anggapanku bahwa
pendidikan dapat memperbaiki kebobrokan perilaku, tanpa disertai aksi nyata,
adalah koar-koar belaka. Atau mungkin aku masihlah terlalu kencur untuk
membicarakan hal seagung pendidikan. Tetapi, yang jelas, saat ini aku
betul-betul marah! David, begundal kelasku, menjatuhkan harga diriku! Tidak,
tidak lagi menjatuhkan, tapi menginjak-injak! Dengan enteng ia bilang bahwa aku
ini cumalah anak miskin yang hobinya menjadi beban orang lain. Baik, aku
bersabar, karena pada kenyataannya aku memang tidak kaya sepertinya. Tapi saat
ia mulai menyinggung pekerjaan orang tuaku, aku tak dapat tinggal diam.
Kuperingatkan dia agar berhenti membahas masalah sensitif ini. Atau kelasku akan
menjelma menjadi Colosseum, lalu aku dan dia, akan menjadi Gladiator tanpa
pedang yang saling bertarung sampai salah satu dari kami mati.
“Tarik ucapanmu, atau kita akan
benar-benar berkelahi.” Peringatan terakhirku padanya.
“Tumben sekali kau sok berani. Apa
karena ada si Sukma itu, jadi kau bisa mengadu? Asal kau tahu, ya. Kemarin aku
melihat guru favoritmu itu memunguti sampah di depan kantor sekolah! Jadi,
selama ini pekerjaannya pemulung sampah?” lalu ia tertawa tanpa dosa.
Kurang ajar!
Aku, orang tuaku, bahkan pak Jaya pun terkena ledekannya! Anak ini harus
diajari sopan santun. dan karena perkataan telah diabaikan, sekarang waktunya
menggunakan pukulan. Maka kami berkelahi, benar-benar berkelahi. Saat itu kami
bukanlah siswa. Kami lebih mirip dua singa yang saling mencakar dengan insting
membunuh untuk membuktikan membuktikan mana yang lebih jantan nan perkasa.
Ada sekitar tujuh menit kami menit
aku dan David berkelahi. Sampai gigiku tanggal satu, dan pelipis David
mengucurkan darah, tapi kami ogah menyerah. Baru di menit ke delapanlah, Dahlia
datang bersama dia: pak Jaya. Pertengkaran kami–untuk tidak menyebutnya
pertempuran–spontan terhenti. Selanjutnya, berkatalah pak Jaya, “Demi tukang
jamu langgananku, apa yang membuat kalian menyelenggarakan perang dunia ketiga?”
ia terpengarah melihat darah yang mengotori seragam kami.
“kalian tidak bertengkar karena
berebut baju diskonan, bukan? Biasanya hanya ibu-ibu yang melakukannya.”
Tanyanya lagi, yang mana kalau saja situasinya mendukung, aku ingin tertawa
saat itu. Akhirnya, sebab mengapa kami bertengkar dijelaskan sejelas-jelasnya
oleh Dahlia. Intinya: sejak awal aku memang sudah emosi saat David mengejek
pekerjaan orang tuaku. Ditambah lagi David menyebut pak Jaya “pemulung sampah” atas
perbuatannya memunguti sampah di depan kantor sekolah kemarin, padahal di
samping kantor ada sapu ijuk yang biasa digunakan pak Wawan, tukang sapu
sekolah. sampai David menjuluki pak Jaya pemulung sampah, barulah aku tak
terima, dan seterusnya, kau tahu sendiri.
Pak Jaya tertawa lebar begitu
penjelasan Dahlia usai. “Timing-nya pas sekali.” Gumamnya sendiri,
“begini saja, sepulang sekolah nanti, kalian berdua ikut saya ke kantor, ya.
Sebentar, kok.”
/3/ Berpegangan.
Pak Jaya menepati janji: Kami hanya
sebentar di kantor sekolah.
“Kalian saya hukum! Bantu bawakan,
ya.” Pak Jaya menyodorkan dua tumpuk berkas.
“Jangan senang dulu. Ini baru
hukuman pembukaan. Ayo, ikut saya! Kita langsung ke hukuman inti.” Katanya
dengan raut muka datar; tidak riang seperti biasanya. Agaknya dia memang marah
pada kami. Mau tak mau, kami mengekor dibelakang pak Jaya.
“Di tempat inilah kalian menjalani
hukuman inti.” Telunjuk pak Jaya mengarah pada restoran dekat sekolah kami.
Kami berpandangan, apa kami mimpi?
“Makan yang banyak! Saya tidak mau
orang tua kalian protes anaknya kekurangan gizi setelah berkelahi. Apalagi
sebab perkelahian itu cuma karena pemulung sampah depan kantor sekolah.” Pak
Jaya tersenyum lebar.
“Kenapa tidak dihukum dengan
hukuman yang umum saja, pak? Seperti push up, sit up, atau denda, mungkin?
Hukuman ini lebih pantas disebut hadiah, pak.”
“Hus, kau ini diberi enak malah
minta malah minta sengsara. Dasar Aneh!” David menyikutku, kupelototi ia.
Kau mau berkelahi lagi?
Pak Jaya tersenyum, “Saya memilih
hukuman yang manusiawi, Candra. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, dalam
jangka pendek, mungkin ampuh dan efektif. Tapi dalam jangka panjang, saya ragu.
Karena pendidikan, sepanjang pengetahuan saya yang terbatas, adalah proses
memanusiakan manusia. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, diatasnamakan
kedisiplinan pun, percayalah, tak akan berefek lama. Yang ada malah melukai
fisik atau hati kita. Kita, manusia, benci dilukai, bukan?”
Lama sekali kami berbincang, sambil
menyantap makan siang. Pak Jaya mendominasi pembicaraan. Dia bercerita tentang
hidupnya, tentang cinta-cintanya yang bertepuk sebelah tangan, tentang kerasnya
jalanan mendidiknya saat ia menjadi pengasong di usia remaja, tentang tokoh
idolanya, filsuf besar Cina, Konfusius. Kurasa, obrolan dengannya ini jauh
lebih mahal ketimbang dua porsi ayam bakar yang ia traktirkan. Sampai pukul
tiga sore, ‘hukuman’ kami akhirnya usai. Pak Jaya pamit pulang. Tetapi, sebelum
itu, ia mengajak kami, aku dan David, berpegangan tangan. “Berjanjilah, kalian
akan bersahabat. Tidak sekadar berteman. Kalian tahu bedanya, bukan?
Laksanakan, ya. Saya mohon.” Pintanya setelah setumpuk berkas yang kami bawakan
masuk ke tas besarnya, sebelum ia benar-benar pergi. “Oh ya, tolong berikan ini
ke bapak kepala sekolah, ya. Formalitas saja. Saya sudah bilang ke dia
sebelumnya.” Disodorkannya sebuah amplop: surat pengunduran diri! baik aku mau
pun David terkesiap. Tapi sudah terlambat untuk bertanya, karena pak Jaya sudah
memacu motornya, pergi meninggalkan kami. Apakah ini serius?
Kelihatannya iya, karena esoknya,
setelah dua bulan bahasa Inggris dipegang pak Jaya, datang lagi seorang guru
baru bernama Laura.
/4/ Pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia
Kabar
bahwa pak Jaya mengunjungi sekolah ini sudah menyebar luas. Hari ini memasuki
tiga bulan sejak pak Jaya mengundurkan diri. Ternyata ia mengundurkan diri
karena banyak guru yang mengecam caranya mengajar. Dia dianggap tidak serius
saat mengajar, kurang tegas, dan lain-lain, dan lain-lain. Pak Jaya memilih
mengalah.
Bel istirahat berdering, aku dan
beberapa teman termasuk David dan Dahlia langsung menghambur menuju lapangan,
mencari-cari sosok humoris itu. Dan siapa sangka, sosok yang kami cari-cari itu
ternyata tengah berada di tempat parkir sekolah: memunguti sampah! Aku melihat
sendiri bagaimana ia memunguti sampah dengan tangannya, lalu saat kedua
tangannya telah menggenggam terlalu banyak sampah, dibuangnya sampah dalam
genggamannya di tempat sampah terdekat, lalu ia memunguti sampah lagi, lalu
membuangnya lagi...
Sesuatu seperti menghentak kesadaran
kami. Bergegas, kami segera membantu pak Jaya membersihkan tempat parkir. Tak
lebih dari lima menit, tempat parkir benar-benar bersih. Setelah sampah-sampah
itu beres, barulah kami menyalami pak Jaya. “Aduh, maaf, ya. Sudah merepotkan
kalian. Kalian semua, apa kabar?”
“Kami baik,
kok, pak. Tidak, justru kami yang harus meminta maaf, pak. Sekaligus berterima
kasih.” Kata David riang. Lalu, mewakili semua, aku berujar, “Terima kasih,
pak. Sudah mengajari kami cara membuang sampah pada tempatnya.”
“Oh ya,
omong-omong, ada apa bapak kesini? Mau ambil gaji? Atau memang cuma mau
berkunjung?” tanya Dahlia, mewakili rasa penasaran kami semua, yang direspon
Pak Jaya dengan senyum simpul, seperti sudah menunggu pertanyaan itu.
Disodorkannya undangan, “Datang, ya. Makanannya banyak, kok.”
Kami melihat
undangan yang dipegang Dahlia. Mataku seperti mau copot demi membaca nama
pengantin perempuannya, “Bu Yasmin? Guru sosiologi kami? Bapak menikah
dengannya?!” seruku terperanjat. Begitu pun David, Dahlia, dan yang lainnya.
Pak Jaya
tersenyum semanis madu, “Iya. Dia cantik, bukan?”
