Ruang Pena JustMam
Ruang Berkarya Jurnalis Mambaus Sholihin 2, Blitar
Selasa, 09 Januari 2018
Sabtu, 09 Desember 2017
Guruku Seorang Pemulung Sampah (Cerpen)
By: Ubaidillah el-qoys
/1/ Orang itu bernama Wahyu Sukma
Wijaya
Namaku Candra, kelas tiga SMA. Hari
ini, sekolahku kedatangan guru baru bernama Wahyu Sukma Wijaya, dipanggil pak
Jaya. Dia mengajar bahasa Inggris, dan kami langsung suka cara mengajarnya yang
humoris tapi sungguh memikat. Beda betul dengan bu Yasmin, guru sosiologi kami,
yang meski cantik wajahnya, tapi saat mengajar keluar taringnya. Ya, ia suka
marah-marah! Dan jarang sekali kami melihatnya tersenyum saat mengajar. Lebih
sering merengut. Sebaliknya, pak Jaya murah senyum sekali, plus humoris. Pernah
ia bertanya pada kami,
“Kalian tahu, mengapa bahasa
internasional adalah bahasa Inggris?”
Dahlia, bintang kelas kami,
mengacung. “Karena Inggris adalah negara adikuasa dan mempunyai pengaruh besar
dalam politik dunia, pak.”
Bisri, kutubuku kelas kami, juga mengacung.
“Sebenarnya negara terkuat adalah Cina, Dahlia. Bukan Inggris. Jadi, alasan
yang tepat adalah karena bahasa Inggris mudah dipelajari oleh semua orang di
seluruh dunia.”
Aku menyahut sekenanya, “Sudah
takdir, pak.”
“Baik. Jawaban kalian benar. Tapi,
inilah jawaban versi saya: karena kalau bahasa internasional adalah bahasa
Jawa, semua kata sapaan di dunia akan berubah menjadi monggo. Tak akan
ada lagi good morning, good afternoon, atau good night. Semua
akan menyapa sesamanya dengan mengucap, ‘monggo, pak... monggo, bu...’.
tidakkah itu membosankan?” Kami tertawa kecil, tapi manggut-manggut
mendengarnya. Sejak ia memperkenalkan diri pada kami sampai ia mengajar, ia
selalu bagaikan magnet raksasa, dan kami selalu bagaikan sebatang besi. Oh ya,
kalau masih bingung mencari alasan untuk menyukai pak Jaya, barangkali ini bisa
menjadi salah satu pilihan: selama mengajar, ia berjanji tak akan memberi kami
tugas mau pun PR! Merdeka!
Tapi, untuk kebebasan itu ia
meminta satu syarat, sederhana saja, jangan pernah bertanya pertanyaan ini
padanya: “Pak, kapan nikah?”
/2/ Colosseum.
Sejak aku
membaca kisah Malala Yousafzai yang rela tertembak demi pendidikan anak-anak
Taliban, aku selalu percaya bahwa pendidikan memang jalan terbaik untuk
mengatasi segala permasalahan yang terkait dengan pemuda, atau dalam skala yang
lebih luas, negara.
Tetapi,
ternyata anggapan tanpa aksi nyata adalah omong kosong. Anggapanku bahwa
pendidikan dapat memperbaiki kebobrokan perilaku, tanpa disertai aksi nyata,
adalah koar-koar belaka. Atau mungkin aku masihlah terlalu kencur untuk
membicarakan hal seagung pendidikan. Tetapi, yang jelas, saat ini aku
betul-betul marah! David, begundal kelasku, menjatuhkan harga diriku! Tidak,
tidak lagi menjatuhkan, tapi menginjak-injak! Dengan enteng ia bilang bahwa aku
ini cumalah anak miskin yang hobinya menjadi beban orang lain. Baik, aku
bersabar, karena pada kenyataannya aku memang tidak kaya sepertinya. Tapi saat
ia mulai menyinggung pekerjaan orang tuaku, aku tak dapat tinggal diam.
Kuperingatkan dia agar berhenti membahas masalah sensitif ini. Atau kelasku akan
menjelma menjadi Colosseum, lalu aku dan dia, akan menjadi Gladiator tanpa
pedang yang saling bertarung sampai salah satu dari kami mati.
“Tarik ucapanmu, atau kita akan
benar-benar berkelahi.” Peringatan terakhirku padanya.
“Tumben sekali kau sok berani. Apa
karena ada si Sukma itu, jadi kau bisa mengadu? Asal kau tahu, ya. Kemarin aku
melihat guru favoritmu itu memunguti sampah di depan kantor sekolah! Jadi,
selama ini pekerjaannya pemulung sampah?” lalu ia tertawa tanpa dosa.
Kurang ajar!
Aku, orang tuaku, bahkan pak Jaya pun terkena ledekannya! Anak ini harus
diajari sopan santun. dan karena perkataan telah diabaikan, sekarang waktunya
menggunakan pukulan. Maka kami berkelahi, benar-benar berkelahi. Saat itu kami
bukanlah siswa. Kami lebih mirip dua singa yang saling mencakar dengan insting
membunuh untuk membuktikan membuktikan mana yang lebih jantan nan perkasa.
Ada sekitar tujuh menit kami menit
aku dan David berkelahi. Sampai gigiku tanggal satu, dan pelipis David
mengucurkan darah, tapi kami ogah menyerah. Baru di menit ke delapanlah, Dahlia
datang bersama dia: pak Jaya. Pertengkaran kami–untuk tidak menyebutnya
pertempuran–spontan terhenti. Selanjutnya, berkatalah pak Jaya, “Demi tukang
jamu langgananku, apa yang membuat kalian menyelenggarakan perang dunia ketiga?”
ia terpengarah melihat darah yang mengotori seragam kami.
“kalian tidak bertengkar karena
berebut baju diskonan, bukan? Biasanya hanya ibu-ibu yang melakukannya.”
Tanyanya lagi, yang mana kalau saja situasinya mendukung, aku ingin tertawa
saat itu. Akhirnya, sebab mengapa kami bertengkar dijelaskan sejelas-jelasnya
oleh Dahlia. Intinya: sejak awal aku memang sudah emosi saat David mengejek
pekerjaan orang tuaku. Ditambah lagi David menyebut pak Jaya “pemulung sampah” atas
perbuatannya memunguti sampah di depan kantor sekolah kemarin, padahal di
samping kantor ada sapu ijuk yang biasa digunakan pak Wawan, tukang sapu
sekolah. sampai David menjuluki pak Jaya pemulung sampah, barulah aku tak
terima, dan seterusnya, kau tahu sendiri.
Pak Jaya tertawa lebar begitu
penjelasan Dahlia usai. “Timing-nya pas sekali.” Gumamnya sendiri,
“begini saja, sepulang sekolah nanti, kalian berdua ikut saya ke kantor, ya.
Sebentar, kok.”
/3/ Berpegangan.
Pak Jaya menepati janji: Kami hanya
sebentar di kantor sekolah.
“Kalian saya hukum! Bantu bawakan,
ya.” Pak Jaya menyodorkan dua tumpuk berkas.
“Jangan senang dulu. Ini baru
hukuman pembukaan. Ayo, ikut saya! Kita langsung ke hukuman inti.” Katanya
dengan raut muka datar; tidak riang seperti biasanya. Agaknya dia memang marah
pada kami. Mau tak mau, kami mengekor dibelakang pak Jaya.
“Di tempat inilah kalian menjalani
hukuman inti.” Telunjuk pak Jaya mengarah pada restoran dekat sekolah kami.
Kami berpandangan, apa kami mimpi?
“Makan yang banyak! Saya tidak mau
orang tua kalian protes anaknya kekurangan gizi setelah berkelahi. Apalagi
sebab perkelahian itu cuma karena pemulung sampah depan kantor sekolah.” Pak
Jaya tersenyum lebar.
“Kenapa tidak dihukum dengan
hukuman yang umum saja, pak? Seperti push up, sit up, atau denda, mungkin?
Hukuman ini lebih pantas disebut hadiah, pak.”
“Hus, kau ini diberi enak malah
minta malah minta sengsara. Dasar Aneh!” David menyikutku, kupelototi ia.
Kau mau berkelahi lagi?
Pak Jaya tersenyum, “Saya memilih
hukuman yang manusiawi, Candra. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, dalam
jangka pendek, mungkin ampuh dan efektif. Tapi dalam jangka panjang, saya ragu.
Karena pendidikan, sepanjang pengetahuan saya yang terbatas, adalah proses
memanusiakan manusia. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, diatasnamakan
kedisiplinan pun, percayalah, tak akan berefek lama. Yang ada malah melukai
fisik atau hati kita. Kita, manusia, benci dilukai, bukan?”
Lama sekali kami berbincang, sambil
menyantap makan siang. Pak Jaya mendominasi pembicaraan. Dia bercerita tentang
hidupnya, tentang cinta-cintanya yang bertepuk sebelah tangan, tentang kerasnya
jalanan mendidiknya saat ia menjadi pengasong di usia remaja, tentang tokoh
idolanya, filsuf besar Cina, Konfusius. Kurasa, obrolan dengannya ini jauh
lebih mahal ketimbang dua porsi ayam bakar yang ia traktirkan. Sampai pukul
tiga sore, ‘hukuman’ kami akhirnya usai. Pak Jaya pamit pulang. Tetapi, sebelum
itu, ia mengajak kami, aku dan David, berpegangan tangan. “Berjanjilah, kalian
akan bersahabat. Tidak sekadar berteman. Kalian tahu bedanya, bukan?
Laksanakan, ya. Saya mohon.” Pintanya setelah setumpuk berkas yang kami bawakan
masuk ke tas besarnya, sebelum ia benar-benar pergi. “Oh ya, tolong berikan ini
ke bapak kepala sekolah, ya. Formalitas saja. Saya sudah bilang ke dia
sebelumnya.” Disodorkannya sebuah amplop: surat pengunduran diri! baik aku mau
pun David terkesiap. Tapi sudah terlambat untuk bertanya, karena pak Jaya sudah
memacu motornya, pergi meninggalkan kami. Apakah ini serius?
Kelihatannya iya, karena esoknya,
setelah dua bulan bahasa Inggris dipegang pak Jaya, datang lagi seorang guru
baru bernama Laura.
/4/ Pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia
Kabar
bahwa pak Jaya mengunjungi sekolah ini sudah menyebar luas. Hari ini memasuki
tiga bulan sejak pak Jaya mengundurkan diri. Ternyata ia mengundurkan diri
karena banyak guru yang mengecam caranya mengajar. Dia dianggap tidak serius
saat mengajar, kurang tegas, dan lain-lain, dan lain-lain. Pak Jaya memilih
mengalah.
Bel istirahat berdering, aku dan
beberapa teman termasuk David dan Dahlia langsung menghambur menuju lapangan,
mencari-cari sosok humoris itu. Dan siapa sangka, sosok yang kami cari-cari itu
ternyata tengah berada di tempat parkir sekolah: memunguti sampah! Aku melihat
sendiri bagaimana ia memunguti sampah dengan tangannya, lalu saat kedua
tangannya telah menggenggam terlalu banyak sampah, dibuangnya sampah dalam
genggamannya di tempat sampah terdekat, lalu ia memunguti sampah lagi, lalu
membuangnya lagi...
Sesuatu seperti menghentak kesadaran
kami. Bergegas, kami segera membantu pak Jaya membersihkan tempat parkir. Tak
lebih dari lima menit, tempat parkir benar-benar bersih. Setelah sampah-sampah
itu beres, barulah kami menyalami pak Jaya. “Aduh, maaf, ya. Sudah merepotkan
kalian. Kalian semua, apa kabar?”
“Kami baik,
kok, pak. Tidak, justru kami yang harus meminta maaf, pak. Sekaligus berterima
kasih.” Kata David riang. Lalu, mewakili semua, aku berujar, “Terima kasih,
pak. Sudah mengajari kami cara membuang sampah pada tempatnya.”
“Oh ya,
omong-omong, ada apa bapak kesini? Mau ambil gaji? Atau memang cuma mau
berkunjung?” tanya Dahlia, mewakili rasa penasaran kami semua, yang direspon
Pak Jaya dengan senyum simpul, seperti sudah menunggu pertanyaan itu.
Disodorkannya undangan, “Datang, ya. Makanannya banyak, kok.”
Kami melihat
undangan yang dipegang Dahlia. Mataku seperti mau copot demi membaca nama
pengantin perempuannya, “Bu Yasmin? Guru sosiologi kami? Bapak menikah
dengannya?!” seruku terperanjat. Begitu pun David, Dahlia, dan yang lainnya.
Pak Jaya
tersenyum semanis madu, “Iya. Dia cantik, bukan?”
Kamis, 03 November 2016
Mahsa: Dua pisang susu (Cerpen)
(by: Ubaidillah el-qoyz*)
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Mahsa. Kemarin, ia resmi lulus dari
Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Hari ini adalah pertama kali dia menyandang
gelar ‘alumni pondok’. Mahsa tak tahu harus bahagia atau malah sedih. Bahagia,
karena kebebasan yang ia impikan dulu menjadi kenyataan, atau sedih, karena ia
dibilang teman-temannya mengakhiri masa enam tahun mondok dengan ‘su’ul
khatimah’. Bagaimana tidak? Kemarin waktu sowan ke Bu Nyai minta do’a dan
boyong, ia ‘ditawari’ tiga Gus dari pondok itu! Dan semuanya ia tolak dengan
alasan masih ingin kuliah diluar.
“Kau menolak menikah dengan keluarga Pondok Lirboyo? Coba ulangi lagi?!”
ibu Mahsa menjewer kuping anaknya itu sampai merah. Tanda bahwa ia sangat
marah.
“Aduh duh duh... Ampun, bu... kan cuma ‘ditawari’, bu...lagipula aku kan
masih muda, bu. Masih ingin berdakwah keliling dunia!”
“Apa? Coba ulangi?!” tangan ibu makin kasar menjewer Mahsa.
“Dunia sudah rusak, nak! Ibu tidak mau kamu ikut rusak! Makanya ibu
memondokkanmu. Lha begitu ditawari suami sholeh, tidak tanggung-tanggung, tiga
calon! Tinggal pilih! Dan kamu malah menolak semuanya?”
Kuping Mahsa merah
bengkak. Kanan dan kiri.
“Iya, bu. Akan kuterima, tapi tidak sekarang. Aku masih ingin kuliah, bu. Dan
bukankah jodoh sudah ditentukan Allah bahkan sebelum aku lahir? Kenapa harus
bingung?”
Ibu Mahsa terdiam. Menatap
anaknya lamat-lamat, lalu menghela nafas berat.
“Ya sudah. Kuliah yang sungguh-sungguh, sana! Biar jadi Bu Nyai yang
pintar!”
“Siap, bu. Aku berangkat dulu ya, assalamualaikum.”
“Eh. Tunggu dulu, nak!”
“Ada apa, bu?” langkah Mahsa terhenti.
“Bawa ini.” Ibu Mahsa menyodorkan dua pisang susu segar. Jujur, sebenarnya
Mahsa benci dan tak suka pisang. Mungkin enam tahun mondok sudah memudarkan ingatan
ibunya tentang itu. Tapi tak apalah, anggap saja simbol perdamaian dengan
ibunya pagi ini.
“Makasih, bu. Aku berangkat.”
“Jangan lupa dimakan pisangnya!”
“Mmm...insyaallah.”
Dalam hati ia menambahi,
“insyaallah tidak akan kumakan, bu”
***
Nama Mahsa langsung
populer di kampusnya. Selain karena cantik, ia juga mudah bergaul
(biasalah...jebolan PonPes kebanyakan memang punya kecerdasan interpersonal
yang tinggi) dan ditambah gaya ngomong ceplas-ceplos binti polosnya yang kerap
mengundang tawa, menjadikan ia cepat dikenal seluruh lapisan kampus.
“Katanya kamu itu lulusan pondok ya, Sa?” tanya John, teman baru Mahsa satu
kelas.
“Ho’oh.”
“Nggak bosan?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak disitu terus aja?”
“Suka-suka akulah! Lagian semua orang punya hak untuk pergi kemana pun dia
mau, kan?”
“Mahsa! Jangan ngobrol sama dia!” tiba-tiba Najma nimbrung ke meja
Mahsa, “Asal kamu tahu ya, dia itu sedang memasukkan doktrin-doktrin sesat ke
kamu. Tentang apa? Agamanya! Dia itu agen gereja yang bertugas menyebar
kristenisasi di kampus ini!”
“Sampai kapan kamu menuduhku begitu?” suara John terdengar putus asa.
“Sampai kamu mengaku! Bahwa kalung-kalung salib, foto-foto Yesus, dan
kaos-kaos bertuliskan ayat Injil yang sering kau bawa ke sini, adalah untuk
mengkristenkan seisi kampus ini! Iya kan? Itu kan misimu?” tuding Najma
berapi-api.
“Najma, kan berkali-kali kubilang, aku membawa itu semua kesini Cuma untuk
promosi. Aku punya toko yang menjual aksesoris untuk umat kristen, sama
sepertimu yang punya toko baju muslimah.”
“Ah, omong kosong! Alasanmu selalu saja itu! Asal kau tahu, minggu lalu aku
coba ke alamat yang sering kau sebut toko itu. Itu ada! Alamat yang kau maksud
Cuma ruko kuno! Masih mau berdalih lagi?”
“Hari minggu memang tutup karena aku ke gereja untuk beribadah, NAJMA!”
John mulai tersulut emosi. Ia menggebrak meja Mahsa. Tidak terima.
“Sudah-sudah...! tidak bisakah kita mengesampingkan agama disini, Najma?”
“Kau membela dia, Sa?” Najma berkata tidak percaya.
“Aku tidak sedang membela siapa pun disini. Aku ingin kita berteman, tanpa
memandang urusan pribadi kita. Apa pun itu.” Ada penegasan di tiga kata
terakhir Mahsa.
Najma terdiam menatap
Mahsa dan john bergantian. Sejurus kemudian ia melengos dan berkata, “Aku tidak
tanggung jawab jika suatu hari nanti kau murtad, Sa!”
Mahsa tersenyum mendengar
itu. Meremehkan alumni Pondok Lirboyo dia, batin Mahsa.
“Jangan percaya. Aku berani sumpah demi apa pun. Aku tidak melakukan
kristenisasi.”
“Iya, John. Aku percaya kok.”
“Najma memang begitu tiap hari. Selalu marah bila bicara denganku. Tapi aku
tahu dia sebenarnya baik, kok.”
Mahsa menghela nafas.
Benar kata ibunya, dunia luar sudah rusak. Andai tidak ia pisah, mungkin tangan
kekar John sudah melakukan lebih dari sekedar menggebrak meja. Beruntung ia
sabar.
***
“Bagaimana kuliahmu, nak?”
“Ya begitulah, bu.” Mahsa menjawab malas, kemudian segera melahap nasi
berlauk sup ayam hangat di depannya. Masakan ibunya memang paling sedunia. Ah, bukan, yang betul terlezat
sedunia dan akhirat!
“Cobalah jalan-jalan, Nak. Banyak yang berubah di daerah ini. Habis sholat
maghrib kamu boleh keluar, asal jangan pulang malam-malam.”
Mahsa tidak menjawab,
hanya mengangguk. Apa salahnya jalan-jalan melihat perubahan daerah ini,
pikirnya. Namun, tiba-tiba ingatannya disentak oleh sesuatu!
“Uhk...!” Mahsa tersedak. Cepat-cepat diraihnya gelas berisi air putih di
depannya, dan langsung meminumnya pelan-pelan.
“Kenapa, nak?”
“Tidak apa-apa. Oh ya, aku selesai makan, bu. Aku ke kamar ya. Nanti kita
jama’ah maghrib kalau ayah sudah pulang dari kantor.” Tanpa menunggu jawaban
ibunya, gadis itu sudah lincah mencuci piringnya, mengambil beberapa buah di kulkas,
dan langsung ke kamar. Ibunya cuma melongo. Anak pertamanya itu memang hobi
sekali bergerak. Overaktif.
“Dasar anak muda.” Ibunya berkata sendiri.
Dalam kamarnya, Mahsa
terlihat duduk fokus memegang bolpoin di atas kertas kosong. Ia tampak berfikir
keras. Hingga, tibalah saat dimana ia dihinggapi inspirasi. Seketika ia
tersenyum. Buru-buru, ditulisnya inspirasi itu dalam dua helai kartu kecil
seukuran KTP.
“Beres!” Mahsa bicara sendiri, lantas senyum-senyum sendiri (lagi). Wah,
untung dia cantik. Jadi mau tersenyumlah, meringislah, menangislah,
merengutlah, mengkerutlah, ya tetap saja cantik. Apalagi kalau marah. Beuh,
bawaannya pengen buat dia tambah marah! Konon, katanya Mahsa itu tambah cantik
justru kalau dia sedang marah! Entah kata siapa...
***
“Ah, masa’? lha wong dia
itu ya, dari luar saja kelihatan horor, apalagi dalamnya! Uh, kayaknya mustahil
deh kalau John sampai minta maaf segala.” Najma berkata sembari menata
baju-baju muslimah di tokonya.
“Beneran, Ma. Ya ampun... apa sih susahnya percaya? Allah saja maha pemaaf,
masa’ kamu nggak?”
“Aku ingin percaya, tapi sulit. Habisnya kami memang sudah bagai musuh
bebuyutan.”
“Dan kamu, yang notabenenya seorang muslim, sama sekali tidak ada keinginan
untuk mengakhiri permusuhan itu? Berdamai?”
“Ada, tapi sedikit.”
“Ingin percaya, tapi sulit. Ingin berdamai, tapi sedikit. Pelit amat sih
kamu, Ma. Jangan setengah-setengah dong.
Kamu sungguh ingin berdamai, tidak?”
“Iya deh...iya. Aku mau.”
“Nah, gitu dong. Oh ya, tadi John
titip ini untukmu.” Mahsa menyerahkan sebuah pisang susu- yang tadi pagi diberi
ibunya- dan secarik kertas kecil seukuran kartu nama.
“Tenang, pisang ini tidak beracun
kok.” Mahsa menyegir bercanda, “Ayo, terimalah.”
Ragu-ragu,
Najma menerima pisang dan secarik kertas itu. Dalam diam ia membaca tulisan
dalam kertas itu, lantas tersenyum manis. Namun, sejurus kemudian kening Najma
berkerut. Mahsa melihat perubahan air muka itu.
“Kenapa, Ma? Ada yang salah?”
“Ah, tidak.” Najma tertawa menepuk
bahu Mahsa. Tawa yang ganjil.
“Sejenak aku merasa konyol. Mungkin
ini pertama kali dalam sejarah ada orang yang memberi pisang sebagai permintaan maaf. Tapi,
sejenak kemudian aku merasa bersalah. Harusnya akulah yang minta maaf duluan.
Bukan malah dia.”
“Baru sadar?”
“Iya.”
“Bagus. Kesadaranmu belum terlambat.
Kau bisa berdamai dengannya besok. Oh ya, omong-omong alamat tokonya dimana?”
Najma mengucapkan sebuah alamat.
“Aku ragu dia benar-benar punya
toko. Kemarin minggu aku coba ke alamat itu. Ternyata Cuma sebuah ruko kuno.”
Mahsa tersenyum. Hari minggu kan
ibadahnya orang Kristen, batinnya.
“Ya sudah. Aku pulang dulu.
Assalamualaikum.”
Najma
menjawab salamnya pelan.
***
“Oh
ya? Dia bilang begitu? Tumben sekali.” John berkata tak percaya.
“Iya, John. Bahkan dia bilang
harusnya dia meminta maaf telah berulang kali menuduhmu melakukan kristenisasi
di kampus. Dia ingin minta maaf, tapi masih malu. Mungkin baru besok dia
bersikap baik padamu.”
“Ya sudahlah. Syukur kalau begitu.”
“Kau memaafkannya, kan?”
“Buat apa menyimpan dendam? Lagipula
aku juga tidak terlalu memikirkannya.” John berkata santai, lantas menciumi
kalung salib yang ia pakai. Mahsa tersenyum melihat itu. Harusnya mereka
akrab karena sama-sama pengusaha, batin Mahsa bersuara.
“Oh ya, ini titipan kecil darinya.”
Sebuah pisang susu dan secarik
kertas itu berpindah tangan. John membaca tulisan tangan dalam kertas kecil
itu:
John
tersenyum membaca itu. Tapi, seperti Najma tadi, tiba-tiba John mengernyitkan
dahi.
“Kenapa John? Kamu terlihat heran.
Ada yang salah?”
John
menatap Mahsa. Terlihat benar ia gugup.
“Ah, tidak ada, kok.” John tertawa.
Ganjil. Ganjal. Aneh.
“Hmm…kamu baik-baik saja, kan? Tidak
sedang sakit?” tanya Mahsa khawatir.
“Enak saja. Jelek-jelek begini aku
masih waras, tauk.” John langsung sewot.
“Nggak, Cuma tanya. Soalnya
kebiasaan orang yang lagi ‘sakit’ tuh suka tertawa sendiri tanpa sebab. Ya
kayak kamu barusan.” Mahsa mengangkat bahu, berkata tanpa dosa.
“Huh…kamu ini. Kalau sudah nggak ada
keperluan, saya persilahkan keluar dari tokoku. Lagipula bukankah jam segini
kamu sembahyang? Sholat isya’?”
“Oh, ya ampun! Aku sampai lupa!”
pekik Mahsa pelan. Ia melirik jam tangannya dan terkejut. Pukul setengah
sembilan?!
“Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Bye!”
“Eh, tunggu dulu, Sa!”
Langkah
gadis itu terhenti. Ia menoleh.
“Apa?”
“Salam ke Najma ya, terimakasih.”
Mahsa tersenyum kecut.
“Iya, kalau tidak lupa.”
Mahsa
pulang dengan hati riang. Pisang susunya habis dengan membawa manfaat. Tapi
masih ada satu hal yang mengusik hatinya.
“Mengapa Najma dan John terlihat
heran membaca kartu ucapan buatanku? Apa mereka tahu itu tulisan tanganku?”
tanya Mahsa sendiri.
“Ah, tidak mungkin mereka tahu itu
tulisanku.” Sambungnya lagi, lantas langsung pulang sebelum amarah ibunya makin
besar.
***
“Mahsaaaa!!!!!
Sudah siang! Ayo bangun!” suara gedoran pintu memaksa mata Mahsa membuka.
Gadis
itu terduduk ngantuk di atas kasur. Dilihatnya sajadah dan rukuh uang sudah ia
lipat rapi setelah sholat subuh tadi. Pandangannya beralih ke jam dinding, dan
matanya langsung membuka sempurna, kantuknya lenyap entah kemana.
“Mahsaaa! Ayo bangun, Nak! Buka
pintunya!” gedoran pintu itu makin keras. Tapi suara ibunya lebih keras.
Mahsa
langsung kalang kabut berganti pakaian.
“Iya, buuuu! Sebentar.”
“Santri kok bangun telat! Santri itu
bangunnya selalu tepat!” gerutu ibunya lagi.
Setelah
ganti, Mahsa langsung ke ruang makan. Disana ia sudah ditunggu ibunya.
“Wah! Nasi goreng!” pekiknya girang,
lantas langsung melahap menu sarapan itu.
“Ayah sudah ke kantor duluan. Jadi
nanti kamu naik angkot ke kampusnya. Salah sendiri kesiangan.”
“Iya, bu. Nggak masalah.”
“Sudah sholat dhuha?”
“Mandi saja belum, bu.” Jawab Mahsa,
jujur.
“Oh,
pantas saja. Itu ada kotoran di mata kamu. Bersihkan dulu. Nanti jatuh ke nasi
gorengmu, lho.”
“Nanti
saja, bu.”
“Aduh,
anak ibu satu ini…cantik-cantik kok jorok.” Goda ibu Mahsa. Yang digoda tidak
merespon. Hanya tersenyum kecut, lalu memakan lagi nasi goreng di depannya.
“Jorok
kayak gini saja banyak yang suka, apalagi kalau wangi dan habis mandi. Bisa-bisa
bidadari pada iri, bu.” Balas Mahsa sekenanya.
“Iya,
deh…anak ibu memang cantik dan baik. Meski kadang-kadang jorok dan malas
mandi.”
“Ya…persis
seperti ibunya.” Sahut Mahsa –bergaya- polos.
“Nak…nak…bisa
saja kamu ini. Ya sudah, cepat habiskan dan lekas kuliah sana! Jangan lupa cuci
muka atau wudhu dulu. Ibu nggak mau wajah cantikmu dirusak kotoran itu.”
“Siap,
bu.”
***
Sampai di kampus, Mahsa terlambat 30
menit.
“Mahasiswa
baru kok terlambat! Tutup pintunya dari luar!” dosen killer itu menyalak
galak. Mahsa, yang perwatakannya cuek bebek, tanpa mengeluh langsung melakukan
perintah itu. Biasalah, kebanyakan jebolan pondok memang tidak terlalu
memusingkan masalah beginian. Buat apa dipusingkan?
Dan,
entah karena kebetulan atau apa, Najma juga terlambat. Senasib dengan Mahsa.
“Kau
juga terlambat, Ma?” tanya Mahsa di perpustakaan, tempat ia biasa nongkrong.
“Iya.
Puh…padahal Cuma terlambat 5 menit. Dosen itu memang terkenal killer. Nggak berperasaan!”
“Santai.
Disyukuri saja, Ma. Oh ya, sudah baikan sama John, belum?”
Tiba-tiba Najma tertawa.
“Sudah.”
Jawab Najma pendek, lantas tertawa lagi.
Mahsa menghela nafas lega. Berkat
dua pisang susu dan kartu ucapan buatannya, dua buah perbedaan dapat membaur
dan sekarang berteman. Mahsa percaya, selalu ada keindahan diantara perbedaan.
Apalagi di negeri seribu satu budaya ini.
“Kenapa
kau tertawa sih, Ma?”
“Karena
ini!” Najma mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kartu ucapan buatanku,
batin Mahsa.
“Kenapa
dengan ini?”
“Ya
lucu saja. John bilang di sini, ‘selamat makan pisang susu’. Aduh, padahal yang
betul pisang Ambon! Masa’ ada pisang susu sebesar itu? John…John…padahal
katanya dia vegetarian, lho. Haha…sungguh lucu, kan?”
Mahsa nyaris tercekat mendengar itu.
Ibunya memang tak pernah bilang jenis pisang apa itu. Dialah yang menyimpulkan
sendiri bahwa itu pisang susu. Kini terang sudah kenapa Najma dan John terlihat
heran kemarin.
“Oh,
begitu…haha…iya, lucu!” Mahsa tertawa kaku, berusaha menyembunyikan malu.
Blitar,
29-9-2016 (selesai saat sore sungguh syahdu)
*) Santri Suci yang tersesat di jalan yang
benar.
Senin, 31 Oktober 2016
أَهَمِّيَةِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ (Teks Pidato B. Arab+Terjemah)
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ
اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ أَفْضَلَ اللُّغَاتِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَم عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ السَّادَاتِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ إِلىَ
يَوْمِ المِيْعَادِ.
حَضَرَةُ المُخْتَرَمِين نَخُصُّو
صَاحِبَ الفضيله والسعادة مُدِيْرُ المَعْهَد منبع الصالحين الشيخ الحاج
مَسْبُوْحِيْن فَقِيْهْ, أَيُّهَا الاَسَاتِذَةُ الكِرَامِ, وَأَيُّهَا الحاضرون و
الحاضرات الاَحِبَّاءُ!
أَيُّهَا السَّادَةُ قُمْتُ بَيْنَ
يَدَيْكُمْ لِأُقَدِّمَ عَلىَ حَضْرَتِكُمْ كَلِمَةً أَوْ كَلِمَتَيْنِ فِي "أَهَمِّيَةِ اللُّغَةِ
العَرَبِيَّةِ".
كَمَا لَايَخْفَى عَلَيْكُمْ أَنَّ
اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ هِيَ أَفْصَحُ اللُّغَاتِ وَاَغْنَاهَا وَهِيَ لُغَةُ
القُرْاَنِ وَلُغَةُ اللهِ الَّذِي أَنْزَلَ وَحْيَهُ بِهَا. كَمَا قال الله
سبحانه وتعالى فِي غَيْرِ قَلِيْلٍ مِنَ الأَيَاتِ البَيِّنَاتِ " قُرْأَنًا
عَرَبِيًّا" "بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ" إِلَى أَخِرِهِ. وَلَا يَخْفَى
عَلَيْكُمْ أَيْضًا أَنَّ الُّلغَةَ العَرَبِيَّةَ هِيَ مِفْتَاحُ العُلُوْمِ
الدِّيْنِيَّةِ وَلَايتسنى لِأَيِّ طَالِبٍ أَن يتجّر في العلوم الدينية بِغَيْرِ
إِتْقَانِ الُّلغَةِ العَرَبِيَّةِ فَالُّلغَةُ العَرَبِيَّةُ هِيَ لُغَةُ المُسْلِمِيْن
فِي جَمِيْعِ اَنْحَاءِ العَالَمِ.
بِهَذِهِ اللُّغَةِ نَقْرَأُ كِتَابَ
اللهِ وَبِهَا أَيْضًا نَتَعَبَّدُ إِلَى اللهِ سبحانه وتعالى. فَيَجِبُ عَلىَ
كُلِّ طَالِبٍ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي تَعَلُّمِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ بِكُلِّ
جُهْدِهِ وَطَاقَتِهِ لِيَصِلَ إِلَى كُلِّ مَايَتَمَنَّاهُ مِنَ العُلُوْمِ
الدِّيْنِيَّةِ.
أَيُّهَا الإِخْوَة! كَانَتِ الُّلغَةُ
العَرَبِيَّةُ تَتَّسِعُ لِكُلِّ زَمَانٍ فَفِي اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ كَلِمَاتٍ
فِي العُلُوْمِ وَالأَلَاتِ والصِّنَاعَاتِ الحَدِيْثَةِ مِمَّا لَايَحْتَاجُ
إِلىَ التَّعْبِيْرِ عَنْهَا بِاللُّغَةِ الأَجْنَبِيَّةِ. فَهِمْتُمْ أَيُّهَا
السَّادَةُ أَنَّ اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ قَدْ وَسِعَتْ كِتَابَ اللهِ لَفْظًا
وَغَايَةً كَمَا قَالَ الحَافِظ فَكَيْفَ يَدَّعِي مدع أَنَّ الُّلغَةَ
العَرَبِيَّةَ لَيْسَتْ لُغَةُ العُلُوْمِ وَلَيْسَتْ لُغَةُ العَصْرِ. فَإِنَّهَا
كَانَتْ يَتَفَاهَمُ بِهَا أَكْثَرُ مِنْ 30 مِلْيُوْن عَرَبِيّ فيِ البِلاَدِ
العَرِبِيَّةِ المُخْتَلِفَةِ.
أَيُّهَا السَّادَةُ الأَعِزَّاء!
كَانَ العُلَمَاءُ أَبَاءُنَا القُدَمَاءُ يَجْتَهِدُوْنَ فِي أَنْ يُخْرِجُوْا
أَوْلاَدَهُمْ عَرَبًا يَتَكَلَّمُوْنَ وَيَتَحَدَّثُوْنَ بِاللُّغَةِ
العَرَبِيَّةِ. فَبِهَذَا أَلَّفُوْا كُتُبَ اللُّغَةِ كَالنَّحْوِ وَالصَّرْفِ
وَغَيْرِ ذَلِكَ. هَذَا، لِيَسْهُلَ عَلَى الطَّالِبِ تَعَلُّمُ اللُّغَةِ
العَرَبِيَّةِ لِيَكُوْنَ اَدَاةً لَهُمْ، فَيَجِبُ عَلَيْنَا جَمِيْعًا اَنْ
نَتَكَلَّمَ بِاللُّغَةِ الفُصْحَى الصَّحِيْحَةِ وَنَتَجَنَّب عَنِ اللُّغَةِ
العَامَّةِ الَّتِي وَقَعِ فِيْهَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ وَلَانَسْتَعْمِلُ
الكَلِمَاتِ فِي مُحَدَّثَتِنَا إِلَّا مَا صَحَّتْ كِتَابَتُهَا لِأَنَّهُ مِنْ
وَاجِبَاتِنَا أَنْ نَنْشُرَ هَذِهِ
اللُّغَةَ الشَّرِيْفَةَ مَعَ المُحَافَظَةِ عَلى رِقَّتِهَا وَلُطْفِهَا
وَفَصَاحَتِهَا إِلَى جَمِيْعِ طَبَقَاتِ المُسْلِمِيْنَ فِي أَيِّ مَكَانٍ
كَانُوْا خُصُوْصًا طُلاَّبَ المَعَاهِدِ وَالمَدَارِسِ الَّذِيْنَ يُدَرِّسُوْنَ
العُلُوْمَ الدِّيْنِيَّةِ فِي الكُتُبِ العَرَبِيَّةِ . هَذَا فَأَرْجُوْ مِنَ
اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُّسَهِّلَ اُمُوْرَنَا وَيَفْتَحَ قُلُوْبَنَا
وَيَجْعَلَنَا جَمِيْعًا مُتَكَلِّمِيْنَ بِاللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ بِجَاهِ سَيِّدِ
البَرِيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.
والسلام
عليكم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Yang saya
hormati pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin, KH. Masbuhin Faqih.
Para dewan
guru yang terhormat,
Para siswa dan
siswi yang tercinta,
Hadirin yang
saya hormati.
Berdirinya saya dihadapan kalian untuk menyampaikan
sepatah atau dua patah kata mengenai “Urgensi/pentingnya Bahasa Arab”.
Hadirin yang
saya hormati.
Tidak salah
lagi bahwa bahasa arab adalan bahasa yang paling fasih dan balaghah yaitu bahasa Al-Qur’an, bahasa wahyu
yang diturunkan oleh Allah. Sebagaimana Dia telah menyebutkannya dalam banyak
ayat Al-Qur’an. diantara ayat: " قُرْأَنًا
عَرَبِيًّا" "بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ"sampai akhir
ayat. Dan tidak diragukan lagi bahwa
bahasa arab adalah kuncinya ilmu-ilmu pengetahuan agama, tanpa penguasaan
bahasa arab yang baik maka tidak akan dapat mendalami ilmu-ilmu agama dengan
benar, karena bahasa arab merupakan bahasa kaum muslimin di seluruh dunia.
Kita membaca
Al-qur’an dan beribadah kepada Allah dengan menggunakan bahasa arab. Maka
wajib bagi
setiap siswa/santri untuk mempelajari bahasa arab dengan sungguh-sungguh dan
giat supaya kita mencapai ilmu-ilmu
agama yang kita inginkan.
Hadirin yang
saya hormati.
Bahasa arab
berlaku untuk setiap zaman, dalam bahasa arab ada kata-kata yang digunakan
dalam ilmu-lmu pengetahuan, alat-alat dan industri modern yang tidak perlu
diistilahkan ke dalam bahasa asing. Sebagaimana seorang penyair yang bernama
Nail Hafidz Ibrahim berkata: bahwa saya memahami al-qur’an secara luas dalam
segi arti dan maknanya, tidak memahaminya dalam pengertian yang sempit karena
cakupannya luas. Bagaimana saya akan menggambarkan alat-alat dan nama industry-industri
yang dibuat manusia dengan bahasa arab dalam satu lafadz/kata ketahuilah oleh
kalian bahwa bahasa arab itu luas dari segi arti dan maksudnya dan bagaimana
tidak dikatatan sebagai bahasa internasional (bahasa ilmu dan sains) karena
bahasa arab ini telah dikuasai/dipahami oleh lebih dari 30juta orang di
Negara-negara arab yang berbeda-beda.
Hadirin yang
saya hormati.
Para ulama
yang terdahulu bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anak mereka untuk dapat
berbicara dengan bahasa arab. Oleh karena itu, mereka menyusun buku-buku
tentang bahasa seperti buku nahwu- shorof dan sebagainya. Supaya dapat
memudahkan bagi siswa/santri untuk mempelajari bahasa arab dan menjadi alat
untuk memahaminya. Kita mesti menggunakan bahasa arab fushah/asli dan menjauhi
bahasa arab pasaran/umum yang digunakan oleh banyak orang . Dan kita harus
menggunakan kata dalam percakapan sehari-hari ini sesuai dengan tulisannya yang
benar. Karena kewajiban kita sebagai umat islam untuk menyebarluaskan bahasa
arab yang mulia ini dengan menjaga keaslian dan kemuliannya ke seluruh lapisan
kaum muslimin dimana saja mereka berada terutama kepada para santri di
pesantren dan di sekolah-sekolah yang sedang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam
buku-buku berbahasa arab.
Dengan ini,
saya memohon kepada Allah supaya memudahkan urusan-urusan kita dan membukakan
hati kita supaya kita dapat berbicara dengan bahasa arab, dengan keagungan
manusia terbaik putra sayyid Abdullah yakni Nabi Muhammad saw.
Langganan:
Postingan (Atom)
