Sabtu, 09 Desember 2017

Guruku Seorang Pemulung Sampah (Cerpen)



By: Ubaidillah el-qoys
 Juara Lomba Cerpen, (Harlah Tarbiyah UNHASY Jombang)
/1/ Orang itu bernama Wahyu Sukma Wijaya
Namaku Candra, kelas tiga SMA. Hari ini, sekolahku kedatangan guru baru bernama Wahyu Sukma Wijaya, dipanggil pak Jaya. Dia mengajar bahasa Inggris, dan kami langsung suka cara mengajarnya yang humoris tapi sungguh memikat. Beda betul dengan bu Yasmin, guru sosiologi kami, yang meski cantik wajahnya, tapi saat mengajar keluar taringnya. Ya, ia suka marah-marah! Dan jarang sekali kami melihatnya tersenyum saat mengajar. Lebih sering merengut. Sebaliknya, pak Jaya murah senyum sekali, plus humoris. Pernah ia bertanya pada kami,
“Kalian tahu, mengapa bahasa internasional adalah bahasa Inggris?”
Dahlia, bintang kelas kami, mengacung. “Karena Inggris adalah negara adikuasa dan mempunyai pengaruh besar dalam politik dunia, pak.”
Bisri, kutubuku kelas kami, juga mengacung. “Sebenarnya negara terkuat adalah Cina, Dahlia. Bukan Inggris. Jadi, alasan yang tepat adalah karena bahasa Inggris mudah dipelajari oleh semua orang di seluruh dunia.”
Aku menyahut sekenanya, “Sudah takdir, pak.”
“Baik. Jawaban kalian benar. Tapi, inilah jawaban versi saya: karena kalau bahasa internasional adalah bahasa Jawa, semua kata sapaan di dunia akan berubah menjadi monggo. Tak akan ada lagi good morning, good afternoon, atau good night. Semua akan menyapa sesamanya dengan mengucap, ‘monggo, pak... monggo, bu...’. tidakkah itu membosankan?” Kami tertawa kecil, tapi manggut-manggut mendengarnya. Sejak ia memperkenalkan diri pada kami sampai ia mengajar, ia selalu bagaikan magnet raksasa, dan kami selalu bagaikan sebatang besi. Oh ya, kalau masih bingung mencari alasan untuk menyukai pak Jaya, barangkali ini bisa menjadi salah satu pilihan: selama mengajar, ia berjanji tak akan memberi kami tugas mau pun PR! Merdeka!
Tapi, untuk kebebasan itu ia meminta satu syarat, sederhana saja, jangan pernah bertanya pertanyaan ini padanya: “Pak, kapan nikah?”
/2/ Colosseum.
            Sejak aku membaca kisah Malala Yousafzai yang rela tertembak demi pendidikan anak-anak Taliban, aku selalu percaya bahwa pendidikan memang jalan terbaik untuk mengatasi segala permasalahan yang terkait dengan pemuda, atau dalam skala yang lebih luas, negara.
Tetapi, ternyata anggapan tanpa aksi nyata adalah omong kosong. Anggapanku bahwa pendidikan dapat memperbaiki kebobrokan perilaku, tanpa disertai aksi nyata, adalah koar-koar belaka. Atau mungkin aku masihlah terlalu kencur untuk membicarakan hal seagung pendidikan. Tetapi, yang jelas, saat ini aku betul-betul marah! David, begundal kelasku, menjatuhkan harga diriku! Tidak, tidak lagi menjatuhkan, tapi menginjak-injak! Dengan enteng ia bilang bahwa aku ini cumalah anak miskin yang hobinya menjadi beban orang lain. Baik, aku bersabar, karena pada kenyataannya aku memang tidak kaya sepertinya. Tapi saat ia mulai menyinggung pekerjaan orang tuaku, aku tak dapat tinggal diam. Kuperingatkan dia agar berhenti membahas masalah sensitif ini. Atau kelasku akan menjelma menjadi Colosseum, lalu aku dan dia, akan menjadi Gladiator tanpa pedang yang saling bertarung sampai salah satu dari kami mati.
“Tarik ucapanmu, atau kita akan benar-benar berkelahi.” Peringatan terakhirku padanya.
“Tumben sekali kau sok berani. Apa karena ada si Sukma itu, jadi kau bisa mengadu? Asal kau tahu, ya. Kemarin aku melihat guru favoritmu itu memunguti sampah di depan kantor sekolah! Jadi, selama ini pekerjaannya pemulung sampah?” lalu ia tertawa tanpa dosa.
Kurang ajar! Aku, orang tuaku, bahkan pak Jaya pun terkena ledekannya! Anak ini harus diajari sopan santun. dan karena perkataan telah diabaikan, sekarang waktunya menggunakan pukulan. Maka kami berkelahi, benar-benar berkelahi. Saat itu kami bukanlah siswa. Kami lebih mirip dua singa yang saling mencakar dengan insting membunuh untuk membuktikan membuktikan mana yang lebih jantan nan perkasa.
Ada sekitar tujuh menit kami menit aku dan David berkelahi. Sampai gigiku tanggal satu, dan pelipis David mengucurkan darah, tapi kami ogah menyerah. Baru di menit ke delapanlah, Dahlia datang bersama dia: pak Jaya. Pertengkaran kami–untuk tidak menyebutnya pertempuran–spontan terhenti. Selanjutnya, berkatalah pak Jaya, “Demi tukang jamu langgananku, apa yang membuat kalian menyelenggarakan perang dunia ketiga?” ia terpengarah melihat darah yang mengotori seragam kami.
“kalian tidak bertengkar karena berebut baju diskonan, bukan? Biasanya hanya ibu-ibu yang melakukannya.” Tanyanya lagi, yang mana kalau saja situasinya mendukung, aku ingin tertawa saat itu. Akhirnya, sebab mengapa kami bertengkar dijelaskan sejelas-jelasnya oleh Dahlia. Intinya: sejak awal aku memang sudah emosi saat David mengejek pekerjaan orang tuaku. Ditambah lagi David menyebut pak Jaya “pemulung sampah” atas perbuatannya memunguti sampah di depan kantor sekolah kemarin, padahal di samping kantor ada sapu ijuk yang biasa digunakan pak Wawan, tukang sapu sekolah. sampai David menjuluki pak Jaya pemulung sampah, barulah aku tak terima, dan seterusnya, kau tahu sendiri.
Pak Jaya tertawa lebar begitu penjelasan Dahlia usai. “Timing-nya pas sekali.” Gumamnya sendiri, “begini saja, sepulang sekolah nanti, kalian berdua ikut saya ke kantor, ya. Sebentar, kok.”
/3/ Berpegangan.
Pak Jaya menepati janji: Kami hanya sebentar di kantor sekolah.
“Kalian saya hukum! Bantu bawakan, ya.” Pak Jaya menyodorkan dua tumpuk berkas.
“Jangan senang dulu. Ini baru hukuman pembukaan. Ayo, ikut saya! Kita langsung ke hukuman inti.” Katanya dengan raut muka datar; tidak riang seperti biasanya. Agaknya dia memang marah pada kami. Mau tak mau, kami mengekor dibelakang pak Jaya.
“Di tempat inilah kalian menjalani hukuman inti.” Telunjuk pak Jaya mengarah pada restoran dekat sekolah kami. Kami berpandangan, apa kami mimpi?
“Makan yang banyak! Saya tidak mau orang tua kalian protes anaknya kekurangan gizi setelah berkelahi. Apalagi sebab perkelahian itu cuma karena pemulung sampah depan kantor sekolah.” Pak Jaya tersenyum lebar.
“Kenapa tidak dihukum dengan hukuman yang umum saja, pak? Seperti push up, sit up, atau denda, mungkin? Hukuman ini lebih pantas disebut hadiah, pak.”
“Hus, kau ini diberi enak malah minta malah minta sengsara. Dasar Aneh!” David menyikutku, kupelototi ia. Kau mau berkelahi lagi?
Pak Jaya tersenyum, “Saya memilih hukuman yang manusiawi, Candra. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, dalam jangka pendek, mungkin ampuh dan efektif. Tapi dalam jangka panjang, saya ragu. Karena pendidikan, sepanjang pengetahuan saya yang terbatas, adalah proses memanusiakan manusia. Hukuman-hukuman yang kau sebut tadi, diatasnamakan kedisiplinan pun, percayalah, tak akan berefek lama. Yang ada malah melukai fisik atau hati kita. Kita, manusia, benci dilukai, bukan?”
Lama sekali kami berbincang, sambil menyantap makan siang. Pak Jaya mendominasi pembicaraan. Dia bercerita tentang hidupnya, tentang cinta-cintanya yang bertepuk sebelah tangan, tentang kerasnya jalanan mendidiknya saat ia menjadi pengasong di usia remaja, tentang tokoh idolanya, filsuf besar Cina, Konfusius. Kurasa, obrolan dengannya ini jauh lebih mahal ketimbang dua porsi ayam bakar yang ia traktirkan. Sampai pukul tiga sore, ‘hukuman’ kami akhirnya usai. Pak Jaya pamit pulang. Tetapi, sebelum itu, ia mengajak kami, aku dan David, berpegangan tangan. “Berjanjilah, kalian akan bersahabat. Tidak sekadar berteman. Kalian tahu bedanya, bukan? Laksanakan, ya. Saya mohon.” Pintanya setelah setumpuk berkas yang kami bawakan masuk ke tas besarnya, sebelum ia benar-benar pergi. “Oh ya, tolong berikan ini ke bapak kepala sekolah, ya. Formalitas saja. Saya sudah bilang ke dia sebelumnya.” Disodorkannya sebuah amplop: surat pengunduran diri! baik aku mau pun David terkesiap. Tapi sudah terlambat untuk bertanya, karena pak Jaya sudah memacu motornya, pergi meninggalkan kami. Apakah ini serius?
Kelihatannya iya, karena esoknya, setelah dua bulan bahasa Inggris dipegang pak Jaya, datang lagi seorang guru baru bernama Laura.
/4/ Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia
            Kabar bahwa pak Jaya mengunjungi sekolah ini sudah menyebar luas. Hari ini memasuki tiga bulan sejak pak Jaya mengundurkan diri. Ternyata ia mengundurkan diri karena banyak guru yang mengecam caranya mengajar. Dia dianggap tidak serius saat mengajar, kurang tegas, dan lain-lain, dan lain-lain. Pak Jaya memilih mengalah.
Bel istirahat berdering, aku dan beberapa teman termasuk David dan Dahlia langsung menghambur menuju lapangan, mencari-cari sosok humoris itu. Dan siapa sangka, sosok yang kami cari-cari itu ternyata tengah berada di tempat parkir sekolah: memunguti sampah! Aku melihat sendiri bagaimana ia memunguti sampah dengan tangannya, lalu saat kedua tangannya telah menggenggam terlalu banyak sampah, dibuangnya sampah dalam genggamannya di tempat sampah terdekat, lalu ia memunguti sampah lagi, lalu membuangnya lagi...
Sesuatu seperti menghentak kesadaran kami. Bergegas, kami segera membantu pak Jaya membersihkan tempat parkir. Tak lebih dari lima menit, tempat parkir benar-benar bersih. Setelah sampah-sampah itu beres, barulah kami menyalami pak Jaya. “Aduh, maaf, ya. Sudah merepotkan kalian. Kalian semua, apa kabar?”
“Kami baik, kok, pak. Tidak, justru kami yang harus meminta maaf, pak. Sekaligus berterima kasih.” Kata David riang. Lalu, mewakili semua, aku berujar, “Terima kasih, pak. Sudah mengajari kami cara membuang sampah pada tempatnya.”
“Oh ya, omong-omong, ada apa bapak kesini? Mau ambil gaji? Atau memang cuma mau berkunjung?” tanya Dahlia, mewakili rasa penasaran kami semua, yang direspon Pak Jaya dengan senyum simpul, seperti sudah menunggu pertanyaan itu. Disodorkannya undangan, “Datang, ya. Makanannya banyak, kok.”
Kami melihat undangan yang dipegang Dahlia. Mataku seperti mau copot demi membaca nama pengantin perempuannya, “Bu Yasmin? Guru sosiologi kami? Bapak menikah dengannya?!” seruku terperanjat. Begitu pun David, Dahlia, dan yang lainnya.
Pak Jaya tersenyum semanis madu, “Iya. Dia cantik, bukan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar