Rabu, 20 April 2016

Santri Baru Yang Sukses


Harus Ada Perbedaan Antara Sebelum Mondok Dan Sesudah Mondok

Pesan dari Romo KH. Masbuhin Faqih

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik

Anak-anakku sekalian.

Pesan saya yang selanjutnya adalah tentang akhlaq al-karimah. Bagaimana kamu sekalian telah dididik berakhlak di pesantren ini, terutama berakhlak kepada Allah s.w.t, seperti ketika salat harus memakai pakaian berwarna putih. Semua ini adalah agar kamu sekalian bisa berlaku sopan dan santun terhadap Allah s.w.t. Sehingga tercipta pula tatakrama kepada manusia, khususnya kepada kedua orang tuamu, ingat!

Keridhaan Allah itu terletak pada keridlaan orang tua begitu juga murka-Nya terletak pada murka orang tua pula

Jangan sampai engkau menyakiti hati keduanya, dan usahakan mereka senang dan bangga mempunyai anak yang shalih dan shalihah seperti kalian. Salah satunya dengan tetap menjaga jiwa kesantrianmu dan diamalkan di rumah kelak.

Hal yang juga penting adalah menghormati asatidz di desa. Ketahuilah, mereka adalah guru pertama kali yang mendidik dan menjadikan kamu sebagai orang yang alim. Walaupun mereka hanya mengajar ‘turutan'(TPQ) saja, tapi tetap harus dihormati dan disambung tali silaturrahim dengannya, lebih-lebih pada hari raya besok. Maka kunjungilah mereka, mintai do’a dan cium tangannya.

Sesungguhnya tidak ada bekas guru atau mantan guru, guru tetaplah guru, sekalipun mereka hanya bisa membaca kitab Sullam Safinah, sedangkan kamu sudah menguasai kitab Fath al-Mu’in. Tapi saya yakin, mereka masih mendoakan kamu sekalian.

Dan yang terakhir kepada para santri khusunya khirrij(alumnus) pesantren Mamba’us Sholihin untuk senantiasa Tazkiyatun nafs, membersihkan kotoran hati, karena hati adalah tempat melihat keagungan Allah Mahal Nadr Allah. Sehingga jika hati kita bersih dan suci dari kotoran
insya Allah, cahaya ilahiyyah akan masuk ke lubuk hati kita yang paling dalam.

Sehingga bagaimanapun alimnya seseorang, tapi jika hatinya kotor maka amalannya tidak ada harganya. Salah satu cara untuk membersihkan hati kita adalah dengan melanggengkan dan istiqamah membaca aurod, baik itu wird al-Atthash, wird al-Haddad, Burdah, Manaqib, Dalail al-Khairat dan lain sebagainya, utamanya aurod yang dibaca di pesantren yang telah saya ijazahkan. Karena aurod yang saya baca sekarang ini muttashil ila mu’allifihi, sambung kepada pengarangnya hingga rasulullah s.a.w, dan saya yakin manfaatnya sangat banyak sekali bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.

dikutip dari:
https://mambaussholihin3benjeng.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar